SOS (Sound of Spotted) episode 3 waktu itu kedatangan musik eksperimental. Tapi bukan sembarang eksperimen. Penampilan itu dinamakan Rohelok. Kalau kami mencari, “Rohelok” itu bisa berarti semacam panggilan atau isyarat—sesuatu yang bersuara dari kejauhan, tapi terasa dekat.
Satu hal yang langsung membuat mata tertuju: sebuah alat musik petik dari Kalimantan, sape, Apa yang mereka bawakan malam itu memang sulit dijelaskan, tapi bukankah eksperimen justru harus begitu?
Di balik Rohelok, ada dua sosok: Rayhan Sudrajat dan Ramz.
Rayhan, atau lebih dikenal dengan nama Baséput, bukan hanya seorang musisi. Ia adalah etnomusikolog dan dosen seni suara yang telah bertahun-tahun menelusuri suara-suara ritual dari berbagai pelosok Indonesia. Ia menyambungkan bunyi-bunyi adat dengan modular synthesizer, menciptakan jembatan antara yang sakral dan yang futuristik. Ini bukan sekadar remix budaya; ini cara Baséput mengajak kita mendengar ulang pesan-pesan leluhur dalam bahasa zaman sekarang.
Baséput, yang sempat menyelesaikan studi etnomusikologi di Monash University, telah tampil dan bekerja lintas benua dari Afrika sampai Eropa membawa misi kecil: suara punya akar, dan akar itu layak didengarkan ulang.

Sementara itu, Deathless adalah proyek suara dari Ramz. Berat, menghantui, kadang nyaris apokaliptik. Ramz adalah komposer, produser, sound engineer, dan juga pembuat instrumen yang membawa tradisi sludge/doom dari masa lalunya ke dalam pendekatan eksperimental yang lebih cair dan terbuka. Lewat Deathless, Ramz seperti sedang menciptakan ruang bunyi untuk masa depan yang kita ragukan, kira-kira itu yang bisa dijelaskan lewat laporan kami.
Akhirnya, penampilan Rohelok di SOS waktu itu adalah dua paduan yang seru dan vibes-nya semacam ritual. Bukan karena mereka sedang pamer teknis, tapi karena ada sesuatu yang berhasil mereka undang dari ruang-ruang sunyi: kemungkinan baru dalam mendengar.
Baséput, yang sempat menyelesaikan studi etnomusikologi di Monash University, telah tampil dan bekerja lintas benua dari Afrika sampai Eropa membawa misi kecil: suara punya akar, dan akar itu layak didengarkan ulang.




