Laboratorium Palestina di Indonesia, Bagaimana Pola Yang Sama Terus Terjadi

Diskusi buku Laboratorium Palestina di The Hallway Space Bandung menghadirkan Anthony Loewenstein dan Zen RS untuk membahas Palestina sebagai “laboratorium” teknologi keamanan Israel serta relevansinya terhadap pola kekuasaan di berbagai negara.
Laboratorium Palestina di Indonesia, Bagaimana Pola Yang Sama Terus Terjadi

Share:

Rabu dua minggu lalu (19/11), The Hallway Space di Bandung menjadi lokasi diskusi publik mengenai buku “Laboratorium Palestina” karya jurnalis investigatif Anthony Loewenstein. Acara ini menarik puluhan peserta dari berbagai latar belakang yang ingin memahami Palestina melalui perspektif geopolitik dan ekonomi pertahanan. Loewenstein hadir sebagai bagian dari tur bukunya bersama penerbit Marjin Kiri, dan Bandung menjadi salah satu kota yang disinggahi.

Diskusi dibuka dengan pertunjukan interaktif oleh Wanggi Hoed, yang membangun suasana reflektif sebelum memasuki pembahasan. Pertunjukan tersebut mengingatkan peserta bahwa pembicaraan tentang Palestina bukan hanya soal statistik politik, tetapi tentang tubuh dan kehidupan manusia. Setelah itu moderator Pradewi Tricatami memulai forum dengan memperkenalkan penanggap utama, Zen RS, yang membantu membingkai isi buku melalui pembacaan yang relevan bagi audiens Indonesia.

Palestina sebagai “Laboratorium” Teknologi Keamanan Israel

Gagasan besar yang mengemuka sejak awal diskusi adalah bahwa Israel bertumpu pada instrumen kedaruratan. Bukan dalam arti pasif menanggapi ancaman, melainkan menjadikan keadaan genting sebagai fondasi untuk mengembangkan teknologi pertahanan, pengawasan, dan sistem keamanan nasional. Berbagai inovasi militer dan intelijen diuji langsung di Palestina sebelum dipasarkan ke dunia, mulai dari sistem drone, kecerdasan buatan untuk pengawasan, hingga perangkat kontrol perbatasan.

Dari sinilah muncul pembahasan mengenai bagaimana Palestina berfungsi sebagai lapangan percobaan. Konflik berkepanjangan memberi ruang bagi negara untuk terus menyempurnakan infrastruktur keamanan yang kemudian diubah menjadi komoditas global. Perspektif ini menyoroti hubungan erat antara kekuasaan, konflik, dan ekonomi pertahanan membuka cara pandang bahwa konflik bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga ekosistem bisnis.

Ketika Konflik, Bisnis, dan Kekuasaan Saling Mengikat

Pertanyaan besar kemudian mencuat di forum: kenapa Israel begitu leluasa di arena internasional sekaligus menjadi eksportir senjata besar? Diskusi mengarahkan peserta untuk melihat bagaimana industri keamanan bekerja seperti industri lainnya: selama menghasilkan keuntungan dan permintaan terus ada, insentif untuk menghentikannya tidak selalu kuat. Loewenstein memperlihatkan temuan liputannya selama dua puluh tahun mengenai bagaimana lobi politik, jaringan perdagangan senjata, dan strategi keamanan saling menopang.

Zen RS menambahkan lapisan analisis dengan mengingatkan bahwa fenomena “laboratorium Palestina” tidak dapat diterapkan ke Indonesia secara langsung satu banding satu. Kedua negara memiliki latar sejarah dan dinamika kekuasaan yang berbeda. Namun, pola kekuasaan dalam mengelola kedaruratan bisa ditemukan di banyak wilayah di dunia. Narasi darurat sering digunakan untuk melegitimasi kebijakan tertentu, memperluas pengawasan, atau menjaga berjalannya kepentingan ekonomi. Dalam diskusi, sempat muncul contoh bagaimana isu lingkungan seperti banjir besar di Indonesia tetap bersinggungan dengan aktivitas ekonomi, menunjukkan bahwa krisis tidak selalu menghentikan pergerakan bisnis.

Ruang Diskusi sebagai Upaya Menjaga Nalar Publik

Pembahasan tersebut menekankan bahwa konflik tidak hanya dipahami melalui drama politik, tetapi melalui struktur kepentingan yang membuatnya bertahan. Ketika konflik menghasilkan pasar, maka manusia dapat berubah menjadi angka dan statistik dalam sistem yang jauh lebih besar dari sekadar perebutan wilayah atau ideologi. Namun di tengah peta besar itu, masih ada pihak-pihak yang memilih untuk bersuara dan mempertahankan solidaritas — bukan untuk menggiring opini, tetapi untuk memastikan bahwa tragedi kemanusiaan tidak hilang di balik bahasa bisnis dan keamanan.

Diskusi ini tidak ditutup dengan kesimpulan final. Forum memang tidak bertujuan mencari jawaban selesai, melainkan membuka ruang refleksi. Setiap peserta pulang dengan pertanyaan masing-masing, bukan dengan formula siap pakai. Ruang percakapan menjadi penting bukan karena mampu memberikan solusi instan, tetapi karena menghadirkan kesempatan untuk terus memikirkan Palestina bukan hanya sebagai headline tragedi, melainkan sebagai fenomena geopolitik yang berhubungan dengan struktur kekuasaan global.

Baca juga: Catatan Unravel Palestine, Alasan Kami Menulis Zine di Tembok