Setelah Jepang, Akankah QRIS jadi Sistem Pembayaran Global?

Bayar ramen di Tokyo cukup scan QRIS, sama seperti di Jakarta. Teknologi lokal ini kini bisa dipakai lintas negara, dari Asia Tenggara hingga Asia. Lalu, apakah QRIS akan jadi sistem pembayaran global berikutnya?
Setelah Jepang, Akankah QRIS jadi Sistem Pembayaran Global?

Share:

Bayangkan lagi jalan-jalan di Jepang dan bayar makan ramen cukup dengan scan QR yang sama seperti di Indonesia tanpa repot tukar uang, tanpa perlu membuka dompet, dan tanpa ribet bawa kartu. Dan paling penting tanpa biaya tambahan yang mencekik. Inilah wajah baru revolusi digital di Asia, yang sebelumnya hanya di Southeast Asia. Dan Indonesia berada di garis depan lewat QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).

QRIS bukan sekadar sistem pembayaran, tapi simbol revolusi digital yang menjadikan transaksi lebih inklusif, dan efisien.

QRIS: Dari Inovasi Lokal ke Revolusi Digital

Diluncurkan pada 2019 oleh BI dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia, QRIS awalnya dirancang untuk menyatukan ratusan standar QR code pembayaran yang terfragmentasi. Sebelum QRIS, merchant harus menyediakan berbagai QR berbeda dari bank dan e-wallet. Dengan QRIS, semuanya menjadi satu pintu untuk semua pembayaran.

Inovasi sederhana ini membuka jalan menuju revolusi digital pembayaran yang memudahkan jutaan UMKM dan konsumen. Kini, QRIS sudah digunakan lebih dari 30 juta merchant di Indonesia, dari warung hingga mal besar.

Mengapa Negara Lain Melirik QRIS?

Keberhasilan Indonesia mengembangkan QRIS membuat banyak negara bertanya-tanya, mengapa sistem ini begitu cepat di adopsi? Ada beberapa alasan:

  • Efisiensi biaya: Transaksi QRIS lebih murah dibandingkan menggunakan jaringan global seperti VISA/Mastercard yang mengenakan biaya tinggi.
  • Inklusi keuangan: QRIS memungkinkan usaha kecil ikut masuk ekosistem digital tanpa perlu mesin EDC.
  • Kedaulatan teknologi: Negara memiliki kontrol penuh atas infrastruktur pembayaran, tidak tergantung pada perusahaan asing.
  • Konektivitas regional: QRIS dikembangkan dengan visi terhubung lintas negara, sejalan dengan agenda ASEAN Payment Connectivity.

QRIS VS VISA & Mastercard

Selama puluhan tahun, Visa dan Mastercard mendominasi pembayaran global. Tapi model mereka berbasis pada kartu dan mesin EDC. Biaya merchant bisa mencapai 2-3% per transaksi, angka yang memberatkan merchant.

QRIS berbeda, berbasis QR code universal dan langsung terhubung ke bank atau dompet digital lokal. Biaya lebih rendah, akses lebih cepat, dan tidak memerlukan perangkat mahal. Bagi negara berkembang, ini adalah solusi revolusioner membangun pembayaran modern tanpa harus membayar mahal ke jaringan global.

Revolusi Digital Lintas Negara

Indonesia tidak berhenti di dalam negeri. Sejak tahun 2022, QRIS mulai terkoneksi dengan jaringan pembayaran negara lain di Asia. Saat ini QRIS telah terkoneksi dengan:

  • Thailand (Thai QR/PromptPay)
    Ekosistem PromptPay sangat masif, materi resmi mitra 8 juta merchant menerima QR. Ini mencerminkan betapa luasnya acceptance ketika di enable cross border menjadi pasar besar.
  • Malaysia (DuitNow QR/PayNet)
    DuitNow QR kini 2,6 juta merchant. Konektivitas Indonesia-Malaysia sendiri sudah komersial sejak 2023 dan terus mencatat jutaan transaksi.
  • Singapura (SGQR/NETS)
    SGQR+ sudah tersedia 35 ribu merchant dan titik. Ini mempermudah wisatawan dua arah.
  • Jepang (JPQR Global)
    Per 17 Agustus 2025  Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta mengumumkan QRIS sudah live di Jepang, baru 35 merchant telah menggunakan QRIS dengan memindai JPQR Global. Dan akan diperluas kedepannya oleh asosiasi sistem pembayaran di Jepang.

Selain beberapa negara yang sudah terkoneksi dengan QRIS, masih ada negara yang sedang uji coba dan dalam proses, diantaranya:

  • China
    Uji coba resmi dimulai 17-18 Agustus 2025, BI menyasar go live akhir 2025 setelah sandbox & interkoneksi dengan UnionPay/PBoC.
  • Korea Selatan
    MoU Bank sentral telah ditandatangani untuk kolaborasi QR, fase teknis sedang disiapkan.
  • Uni Emirat Arab (UEA)
    MoU BI dengan CBUAE di ranah payment system, termasuk penjajakan QR linkage tapi belum komersial.

Bagi wisatawan, ini adalah kabar baik. Bayar kopi di Tokyo atau belanja di Singapore bisa dilakukan dengan aplikasi dompet digital Indonesia. Begitu juga sebaliknya, turis di Indonesia bisa bayar dengan aplikasi dari negaranya.

Apa Selanjutnya?

Masuknya QRIS ke Jepang hanyalah awal dari perjalanan panjang. Adopsi teknologi ini membuka banyak potensi. Bagi sektor pariwisata, wisatawan akan jauh lebih mudah bertransaksi tanpa harus menukar mata uang. Di sisi lain, UMKM menerima pembayaran dengan biaya rendah, memberi mereka peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Tidak berhenti di situ, QRIS juga berpotensi mendorong efisiensi remitansi bagi pekerja migran, memperkuat ekosistem e-commerce lintas negara hingga menjadi pondasi bagi integrasi ekonomi digital di ASEAN. Dalam jangka panjang, QRIS bisa terkoneksi dengan sistem mata uang digital bank sentral (CBDC), menjadikannya salah satu infrastruktur keuangan paling strategis.

Di era dimana transaksi digital semakin penting, QRIS bekerja diam-diam di balik stiker QR di etalase warung hingga kios di Bandara Tokyo. Dengan QRIS, Indonesia menawarkan blueprint pembayaran yang sederhana,murah,dan inklusif. Ketika merchant di Kuala Lumpur, Bangkok, hingga Tokyo mulai akrab dengan pembayaran dari QRIS.

Mungkin, suatu saat nanti QRIS menjadi standar pembayaran internasional yang universal. Dan ketika saat itu tiba, kita bisa mengatakan “Revolusi Digital itu Dimulai dari Sini, Indonesia”.

Baca juga: The Blind Warrior Dari Sebuah Komik Legendaris ke Panggung Dunia