Pengelola tempat wisata seringkali menjadi kambing hitam atas urusan apa pun. Tempat parkir yang penuh, akses jalan yang buruk, fasilitas penunjang wisata yang kurang, hingga tumpukan sampah di sudut-sudut yang tak terlihat mata—semua salah pengelola. Ketika ditanya, “Kok banyak banget tumpukan sampah? Siapa sih yang tanggung jawab?” maka template jawabannya: “Ini tanah dikelola oleh PT. A. Coba tanya aja ke mereka.”
Jawaban itu terlalu kekanak-kanakan dan tidak menyelesaikan permasalahan yang sesungguhnya. Itu menunjukkan seolah-olah semua kondisi yang terjadi di lingkungan tempat wisata adalah tanggung jawab pengelola semata. Padahal, menjaga lingkungan adalah kewajiban dari semua makhluk yang ada di muka bumi.
“Untuk masalah sampah ini memang harus diawali dari sistem yang tepat. Kita harus lihat dari sisi manusianya—sampah ini dari mana datangnya? Apa jenisnya? Bagaimana sistem pengelolaan sampah warga sekitar? Bagaimana dengan yang dilakukan pengelola? Semua harus ditelusuri agar ada aksi yang tepat untuk masalah sampah ini,” jelas Kurnia, Pecinta Alam & Aktivis Lingkungan Garut.
Temuan dari kegiatan Bersih Gunung Guntur menunjukkan bahwa ada masalah dalam sistem pengelolaan sampah di sekitar Situ Cibeureum. Rata-rata sampah yang ditemukan adalah sampah rumah tangga—popok bayi, kemasan sabun cuci, makanan ringan, dan minuman sachet. Setelah berdiskusi dengan petani yang beraktivitas di sekitar sana, terungkap bahwa kawasan tersebut memang tidak memiliki Tempat Pembuangan Sementara (TPS).

“Wajar kalau warga buang sampah sembarangan. Soalnya nggak ada TPS, artinya nggak ada pengangkutan sampah rumah tangga secara berkala. Jadi awalnya masyarakat buang sampah ke tebing. Setelah tebing ditutup, mulai buang ke Situ Cibeureum, di pinggir jalan, di cekungan. Aksi setelah ini adalah koordinasi dengan ketua RW setempat untuk meminta pengangkutan sampah di kampung-kampung sekitar sini,” ungkap Rusdi, Founder The Forest Ranger.
Melalui program Bersih Gunung, The Forest Ranger tidak hanya membersihkan area gunung, tetapi juga mencoba melihat permasalahan lingkungan dari sisi aktivitas manusia dan sistem yang mendukungnya. Sehingga kegiatan ini bukan sekadar pemungutan sampah, tapi sebuah upaya untuk memahami dan menyelesaikan akar masalahnya.
“Ada kita, alam bersih. Nggak ada kita, alam tetap bersih. Itu bukti dari kegiatan kita sudah berhasil,” pungkas Kurnia.





