Soft Power Indonesia dalam Diplomasi Budaya Dunia? Ya Musik, Film, Game, Visual!

Soft power Indonesia kini tumbuh lewat musik, film, game, dan visual yang membawa nilai budaya ke panggung global. Dari kolaborasi industri hingga ekspresi seniman muda, diplomasi budaya Indonesia menegaskan peran hiburan sebagai kekuatan baru dalam memengaruhi dunia.
SOFT POWER INDONESIA DALAM DIPLOMASI BUDAYA DUNIA YA MUSIK, FILM, GAME, VISUAL!

Share:

Di era saat ini, kekuatan sebuah bangsa tidak lagi diukur semata dari militer atau ekonomi, tetapi dari kemampuannya memengaruhi dunia lewat budaya. Musik, film, game, dan visual menjadi “bahasa” baru diplomasi.

Dalam acara Power Lunch GDP yang digelar pada 8 Oktober 2025 di Jakarta. Mengusung tema “Membangun Percakapan Global Lewat Entertainment”, forum tersebut mempertemukan para pelaku utama industri kreatif Indonesia untuk membahas bagaimana hiburan bisa menjadi kekuatan diplomasi budaya di panggung dunia.

Musik: Nada yang Menembus Batas

Musik selalu menjadi jendela pertama dunia mengenal Indonesia. Martin Hartono, CEO GDP Venture, menegaskan bahwa soft power tidak muncul begitu saja ia butuh “mesin penggerak”, ekosistem ekonomi yang kuat di baliknya.

“Kalau QRIS bisa diterima di berbagai negara, itu juga bentuk soft power. Tapi untuk bertahan, ia butuh engine ekonomi yang solid,” ujarnya.

GDP Venture berperan membangun ekosistem kreatif lintas bidang mulai dari kolaborasi dengan 88rising hingga pengembangan label musik 12 Wired, yang menaungi NIKI, Rich Brian, Warren Hue, dan NoNa. 

Martin menekankan, “Bakat soft power kita ada di musik, film, dan performance art. Indonesia negara majemuk soft power kita lahir secara natural.”

Namun, kekuatan musik Indonesia tidak hanya datang dari kolaborasi industri. Band seperti Voice of Baceprot (VoB) membuktikan bagaimana ekspresi autentik bisa menjadi diplomasi budaya yang kuat. Dari Garut ke panggung internasional, VoB tampil di festival besar seperti Wacken Open Air di Jerman membawa pesan kesetaraan dan kebanggaan akan identitas Indonesia melalui musik metal.

Di era di mana media sosial menjadi panggung utama, data dari Lokadata memperkuat pernyataan itu: Generasi muda Indonesia kini lebih banyak menemukan musik lewat algoritma media sosial ketimbang radio. Mereka mengikuti artis sejak awal kariernya, bukan semata karena nama besar. Di sinilah muncul loyalitas baru yang membuka ruang besar bagi musisi lokal untuk menembus pasar global.

Film: Dari Cerita Lokal ke Diplomasi Global

Dari layar lebar, Angga Dwimas Sasongko membawa sudut pandang menarik. Baginya, film bukan lagi sekadar tontonan, melainkan Intellectual Property (IP) yang membangun ekonomi kreatif lintas sektor.

“Film hari ini bukan cuma hiburan, tapi fondasi ekosistem. Ketika film bisa melahirkan produk turunan, merchandise, hingga serial, di situlah nilai ekonominya tumbuh,” jelas CEO Visinema itu.

Lewat karya seperti Jumbo, Keluarga Cemara, dan Mencuri Raden Saleh, Visinema membuktikan bahwa cerita keluarga, kedekatan emosional, dan nilai-nilai lokal bisa menjadi pintu diplomasi budaya yang kuat.

Angga menegaskan, “Kalau anak-anak kita tidak punya tontonan lokal yang kuat, siapa yang akan membawa mereka ke bioskop 10 tahun ke depan?”

Film Indonesia kini bukan hanya hiburan domestik, tapi instrumen diplomasi yang memperkenalkan identitas bangsa lewat visual yang membumi dan universal.

Budaya: Identitas yang Menggema

Dari panggung musik klasik hingga teater internasional, soft power Indonesia juga hidup lewat ekspresi budaya. Batavia Madrigal Singers lewat konser “Remembrance” menghadirkan keindahan paduan suara Indonesia di panggung dunia, membuktikan bahwa harmoni bisa menjadi bahasa universal diplomasi. The Resonanz Children’s Choir menanamkan semangat yang sama sejak dini suara anak-anak Indonesia yang bernyanyi di ajang internasional membawa pesan perdamaian dan kebanggaan nasional.

Sementara itu, seniman muda seperti Desmonda Cathabel, yang meniti karier di teater Broadway, serta Elhaq Latief, yang mengeksplorasi musik dan visual kontemporer, memperlihatkan bahwa budaya Indonesia kini berbicara dalam banyak bahasa dari panggung hingga layar digital.

Game: Bahasa Interaktif yang Mengglobal

Dari dunia digital, Arief Widhiyasa, Co-founder Agate dan CEO Confiction Labs, menegaskan bahwa industri game kini menjadi salah satu sektor hiburan terbesar di dunia.

“Nilai ekonomi global industri gim telah mencapai 192,7 miliar dolar AS, menjadikannya sektor hiburan terbesar, melampaui industri film dan musik,” ungkapnya di Power Lunch GDP.

Sebagai salah satu pionir pengembang game di Indonesia, Arief melihat potensi besar bagi kreator lokal untuk menembus pasar global. Melalui karya seperti Valthirian Arc dan Code Atma, Agate membuktikan bahwa game buatan Indonesia mampu hadir di berbagai platform dunia mulai dari Nintendo Switch, PlayStation, Xbox, hingga PC.

Menurut data Lokadata, 66% pemain game di Indonesia menggunakan ponsel, 33% bermain di PC, dan 23% di konsol. Angka ini menegaskan betapa luasnya basis audiens lokal sekaligus besarnya peluang bagi pengembang untuk memperluas pasar lewat berbagai medium.

Bagi Arief, game bukan sekadar produk hiburan, melainkan medium ekspresi budaya. Melalui narasi, karakter, dan visual yang diambil dari imajinasi lokal, game dapat menjadi bentuk diplomasi budaya baru di mana dunia tidak hanya melihat Indonesia, tapi memainkan ceritanya.

Hiburan sebagai Pola Hidup Baru

Perubahan cara masyarakat menikmati hiburan tergambar jelas dari data SurV Lokadata yang dipaparkan oleh Suwandi Ahmad, Chief Data Officer Lokadata. Generasi muda Indonesia kini lebih memilih pengalaman dibanding kepemilikan barang. Mereka rela mengeluarkan uang untuk travelling, menonton konser, atau menikmati hiburan digital, bahkan menggunakan pay later untuk mewujudkannya.

Berdasarkan temuan SurV, anak muda mendengarkan musik lebih dari satu jam setiap hari, bahkan saat bekerja. Kebiasaan ini menunjukkan pola multitasking yang kuat, di mana hiburan menjadi bagian dari rutinitas produktif mereka.

Ketergantungan terhadap konten video dan musik digital juga semakin tinggi, dengan smartphone sebagai perangkat utama. Namun, perilaku konsumsi mereka tetap dipengaruhi oleh tren media sosial dan lingkaran pertemanan, film yang sedang viral, hingga genre yang sedang naik daun.

“Anak muda kita sekarang digerakkan oleh media sosial,” ujar Suwandi. “Popularitas di TikTok bisa menjadi alasan seseorang mendengarkan musik baru, menonton film tertentu, bahkan menentukan selera hiburannya.”

Suwandi juga menambahkan, konten horor menjadi genre paling digemari karena menawarkan experience emosional dan interaksi. Meski akses digital makin mudah, hiburan konvensional seperti festival musik dan bioskop tetap punya tempat di hati penonton muda menciptakan keseimbangan antara pengalaman digital dan fisik.

Power Lunch GDP 2025 menjadi ruang di mana gagasan dan keyakinan tentang bagaimana kreativitas Indonesia dapat tumbuh menjadi kekuatan soft power melalui kolaborasi lintas industri dan disiplin seni yang berakar pada warisan, berkembang lewat inovasi, dan bergaung ke panggung global.

Baca juga: Setelah Jepang, Akankah QRIS jadi Sistem Pembayaran Global?