Hampir penghujung tahun 2024, Indonesia rata-rata sudah hujan tipis. Artinya, Joyland akan segera digelar. Banyak band jadi line-up, dari berbagai scene, dari berbagai genre, sub-genre dan berbagai negara. Salah satu di antaranya adalah band Indie rock asal Tokyo, DYGL.
Semula, Band yang digawangi Kamoto Kohei (Drum), Yotaro Kachi (Bass), Yosuke Shimonaka (Gitar Lead), Suzuki Kento (Gitar) dan Akiyama Nobuki (Gitar & Vokal) ini akan tampil di helatan Joyland 24 November 2024 di Jakarta.

Alih-alih touchdown di Jakarta, DYGL ‘diculik’ dulu ke Bandung, mereka akan menggelar konser intimate dan eksklusif di di Sloow Otten, ide ini digagas oleh Rihels Agency, juga ambassador Brando Ori, Saradan Brez pada Sabtu, 23 November 2024.
‘Penculikan’ ini bukan saja beres dengan konser. Rombongan dari Jepang ini juga sempat mencicipi masakan Padang, dan jalan-jalan santai di Bandung. Tentu dalam urusan ini teman-teman Rihels dan BERAK selalu punya pilihan yang tepat.
Jadi kalau kita simpulkan, sebelum di Joyland, DYGL mendapat kesempatan pemanasan dengan crowd Indonesia, dan bertemu dengan Bandung.
Perjalanan DYGL ke Indonesia ini adalah bagian dari tur EP terbaru mereka “Cut the Collar” judulnya. Pertama saya dengar, mirip dengan Culture Collar. Dan benar saja, secara makna ada benarnya juga. Lebih dalam kita akan simpan di interview, tapi kurang lebih, DYGL ini kembali ke dapur mereka sendiri sejak beberapa waktu bersama label.
Tidak sendirian, Intimate show ini dibuka dengan unit indiepop yang sudah tidak asing di kancah pop lokal, Sunny Summer Day. Sebelumnya juga jadi pembuka buat tur aliansi indie rock Bogor dalam rangka ‘Asal Bunyi Tour’.

Seperti biasa, jika ada gigs di Bandung, ada dua hal yang terjadi yang pertama adalah show, yang kedua adalah silaturahmi/nongki. Bertemu teman lama, menonton teman lama sekaligus datang menuntaskan penasaran.
Sunny Summer Day berhasil membuat suasana jadi hangat, penonton sing-along, dan terlihat beberapa yang baru ketemu Sunny Summer Day menikmati sajian ini.
Lalu sampai ke penampilan DYGL. Dengan tak adanya batas berarti antara penonton dan pemain, Kalau kita gambarkan maka kata; “atraktif” cukup menjelaskan penampilan mereka. Atau “Oh, begini rupaya salah satu bentuk scene Indie Jepang”.
Dalam wawancara, mereka menjelaskan adanya perbedaan yang jelas antara dua scene ini, dan kami mendapatkan kesempatan untuk bincang-bincang dengan mereka.




