Tahun 2025 menjadi titik balik dari film animasi Indonesia. Setelah film “Jumbo”dirilis lebaran tahun ini, “Merah Putih: One For All” menggebrak di momen hari kemerdekaan. Keduanya sama-sama menciptakan keriuhan di masyarakat. Jumbo berhasil mencatatkan sejarah menjadi film animasi Indonesia paling laris dengan 10 juta penonton, sementara Merah Putih: One For All menciptakan kegaduhan: kok bisa film seperti ini masuk ke layar lebar?
Publik menilai bahwa film Merah Putih: One For All adalah sebuah hinaan kepada Jumbo. Bagaimana tidak, proses pembuatan Jumbo memakan waktu 5 tahun dan melibatkan lebih dari 400 animator Indonesia, sementara itu, Merah Putih: One For All digarap kurang dari satu bulan. Mungkin Endiarto dan timnya sedang penuh gairah untuk menyelesaikan film itu, dan tentunya terinspirasi oleh lagu Satu Bulan-nya Bernadya.
“Belum ada satu bulan, kuyakin masih ada ruang untuk filmku di bioskop”
Durasi pengerjaan yang kurang dari satu bulan itu tentu saja menghasilkan karya yang jelek saja belum tidak maksimal. Sementara Jumbo, dengan penuh kerendahan hati, masih menyebutkan bahwa ini merupakan hasil karya dari banyak orang. Dibutuhkan tingkat kesabaran selevel dewa untuk pekerjaan yang memakan waktu 5 tahun dan melibatkan banyak orang.
Memang film Jumbo dan Merah Putih: One For All sangat tidak apple-to-apple jika harus dibandingkan. Budget pengerjaannya saja sudah berbeda. Jumbo menghabiskan dana sekitar 40 miliar, sementara Merah Putih: One For All memakan dana 6,7 miliar. Tapi Endiarto dan kawan-kawan harus tahu, mereka mungkin akan masuk surga jika dana 6,7 miliar itu tidak dijadikan film animasi yang asal-asalan dan dipakai untuk menyantuni anak yatim.
Uniknya, dengan berbagai hujatan yang didapat Merah Putih: One For All, sang sutradara Endiarto mengabarkan bahwa dirinya akan membuat sekuel setiap tanggal 17 Agustus. Pernyataan Endiarto ini sangat gegabah berani, mengingat banyaknya hujatan dari masyarakat di internet. Harus kita ingat, bahwa Merah Putih: One For All masih memiliki penonton–yang mungkin saja adalah fans garis keras.
2.341 orang menonton di minggu pertama penayangan Merah Putih: One For All, tepat sebelum film itu ditarik dari peredaran. Sementara itu, Jumbo bisa mendatangkan 1 juta penonton di pekan pertamanya. Kita sama-sama paham, dengan budget produksi di 6,7 miliar Perfiki Kreasindo mungkin tidak bisa mempromosikan film ini dengan baik. Tapi saya yakin pembaca yang budiman bisa memikirkan alasan lain.
Baca juga: Setelah Jepang, Akankah QRIS jadi Sistem Pembayaran Global




