Perjalanan kami di Merabu memperlihatkan satu hal yang terasa begitu jelas, makanan tidak bisa dilepaskan dari hutan dan kehidupan masyarakatnya. Selama berada di sana, sajian yang kami temui selalu berangkat dari apa yang tersedia di alam sekitar. Dari apa yang tumbuh, dipetik, dijala, hingga diramu dengan cara yang sudah akrab bagi masyarakat setempat.
Dari sepiring makanan, kami mulai memahami bahwa kuliner di Merabu bukan sekadar urusan rasa. Ia menyimpan cerita, tradisi, dan upaya pelestarian yang berjalan diam-diam bersama kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak Lebo.
Ikan hasil jala, daging payau (kijang), umbut rotan, sambal bawang rambut pucuk, rebung bambu, pakis hutan, hingga piading atau kecombrang adalah menu dan bahan yang lekat mengiringi perjalanan kami selama di Merabu. Yang luar biasa, masyarakat Dayak Lebo meramu dan memakan apa yang ada di hutannya. Hidup darinya, sekaligus melestarikannya.
Menu-menu ini dihidangkan oleh Ibu Ester di rumahnya, dalam suasana jamuan yang hangat dan sederhana. Resepnya kami catat di Majalah Explorasa Merabu, namun cerita di baliknya hidup melalui cara makanan itu dihadirkan: tanpa berjarak, tanpa berlebihan.
Sepiring Makanan, Sepotong Perjalanan
Setiap sajian di Merabu seperti membawa hutan ke atas meja makan. Ikan segar yang baru diangkat dari perairan sekitar, umbut rotan yang diolah sederhana, hingga sambal yang diracik dari bahan hutan, semuanya terasa dekat dan apa adanya.
Tidak ada upaya untuk tampil rumit. Justru dari kesederhanaan itulah rasa menjadi jujur. Makan di Merabu bukan sekadar aktivitas mengisi perut, tetapi bagian dari perjalanan itu sendiri,tentang duduk bersama, berbagi lauk, dan memberi waktu untuk benar-benar menikmati apa yang tersaji.
Pecok Merabu dan Tradisi Merujak
Salah satu sajian yang mencuri perhatian kami adalah pecok. Rujak khas Merabu ini dibuat dari berbagai buah yang sedang musim di sekitar kampung. Dalam salah satu sajian, kami mencicipi buah asam cekala atau buah kecombrang yang dipadukan dengan jeruk songkit. Rasanya segar, sederhana, dan terasa berbeda dari rujak pada umumnya.
Pecok adalah kebiasaan masyarakat Merabu untuk merujak buah saat waktu senggang. Biasanya dinikmati secara beramai-ramai. Selain menjadi cara menikmati hasil alam, pecok juga berfungsi menjaga tradisi dan mempererat kebersamaan antarwarga melalui momen sederhana yang dipersatukan oleh makanan.
Hanya berbekal buah musiman, cabai rawit, dan gula, pecok khas Merabu ini sebenarnya sudah bisa di-recreate. Namun pengalaman menyantapnya bersama, di tempat asalnya, memberi makna yang tidak bisa dipindahkan begitu saja.
Dari Hutan ke Meja Makan
Semua bahan makanan yang kami santap di Merabu bersifat organik. Benar-benar from forest to table. Dari sepiring sajian, kami merasakan betapa dekat arti hutan dan kehidupan.
Empat hari di Merabu membuat kami mengerti bahwa cita rasa kuliner di sini perlu dirawat. Bukan semata sebagai warisan kebiasaan masyarakat Dayak Lebo, tetapi sebagai cara untuk menghormati dan mengingat bahwa hutan telah lebih dulu menghormati keberadaan manusia,dengan air yang jernih, ikan, dedaunan, madu, dan obat-obatan yang melimpah.
Bahkan peralatan memasak pun berasal dari alam. Daun semparik digunakan sebagai tilam sekaligus pemberi aroma pada masakan. Semua diambil secukupnya, tanpa meninggalkan jejak berlebih.
Dalam salah satu momen perjalanan, kami makan bersama dengan pemandangan Danau Nyandeng. Menu yang tersaji antara lain ikan patin bakar, ayam kuning piading masak bambu, kijang masak, pakis, nasi bakar bambu, dan sambal bawang rambut.
Tim kami makan dengan lahap, ditemani lanskap yang membuat waktu seolah melambat. Secara alamiah, makanan ini sudah sehat dan menjadi kearifan lokal yang tak terpisah dari manusia di Merabu.
Tidak ada klaim berlebihan, tidak ada kemasan modern. Yang ada hanyalah praktik hidup yang telah lama berjalan dan terus dijaga.
Jika hutan adalah dapur bagi masyarakat adat Merabu, maka dengan menebangnya, yang tercerabut bukan hanya lingkungan. Gastronomi, tradisi, dan pengetahuan ikut terancam hilang.
Dari perjalanan ini, kami belajar bahwa menjaga kuliner lokal berarti juga menjaga hutan yang menjadi sumbernya. Karena dalam setiap piring dan sajian Merabu, selalu ada cerita tentang kehidupan, kebersamaan, dan pelestarian yang berjalan beriringan.
Baca juga: Belajar Memuliakan Alam di Merabu: Kekayaan Alam & Cara Hidup Dayak Lebbo Untuk Hutan



