Tumpukan sampah masih menjadi pemandangan yang mudah ditemui di berbagai tempat wisata Indonesia, terutama di area camping ground. Rencana menginap di alam bebas membuat masyarakat banyak membawa kebutuhan dalam kemasan sekali pakai. Semakin ramai tempat wisatanya, semakin banyak kemasan sekali pakai, semakin banyak juga sampah yang menumpuk.

Tumpukan sampah itu juga terlihat di wilayah kaki Gunung Guntur, tepatnya di area Camping Ground Situ Cibeureum. Area hijau dengan luas 2 hektar itu menyimpan tumpukan sampah di berbagai sisi. Tidak hanya di area camping ground, tumpukan sampah juga terlihat di pinggir jalan akses menuju Situ Cibeureum.
“Sampah di sini bukan cuma yang terlihat di permukaan saja. Banyak juga sampah yang dikubur ke dalam tanah. Jadi bisa kita lihat juga memang ada orang yang sengaja membuang sampah di sini,” jelas Rusdi Raisa, Founder The Forest Ranger.
Untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan di Situ Cibeureum, The Forest Ranger menginisiasi gerakan Bersih Gunung Guntur. Inisiasi ini akhirnya disambut baik oleh berbagai pihak yang memberikan dukungan peralatan dan pengangkutan sampah, di antaranya adalah D’Russa Leather, Perhutani, Dinas Lingkungan Hidup Kab. Garut, BKSDA Kab. Garut, KPA REKAPALA Garut, dan Nomade Leatherworks.
Bersih Gunung Guntur akhirnya dilaksanakan tiga hari pada tanggal 26, 27, dan 28 April 2024. Operasi tiga hari itu menemukan banyak fakta baru di lapangan. Sampah yang terkumpul sebanyak 50 trash bag itu didominasi oleh sampah rumah tangga, seperti popok bayi, pakaian, dan sampah dapur.
Sampah-sampah tersebut akhirnya diangkut oleh truk dari Dinas Lingkungan Hidup Kab. Garut. 50 trash bag, satu truk penuh sampah telah diangkut dari kawasan Camping Ground Situ Cibeureum. Tetapi gerakan ini tidak akan menghentikan permasalahan sampah begitu saja. Satu truk sampah yang baru diangkut ini bukanlah akar permasalahan yang sebenarnya.
“Bersih Gunung ini memang harus berkelanjutan, biar masalahnya juga terselesaikan sampai ke akarnya. Gerakan seperti ini memang dimulai dengan sedikit orang yang aware dengan kelestarian lingkungan,” ungkap Raushan Fekri, Owner Nomade Leatherworks, “lama kelamaan budaya menjaga kelestarian lingkungan ini akan menjadi membesar.”




