Sudah satu bulan satu Indonesia dalam kondisi yang menegangkan, berbagai resolusi diperbincangkan di sana dan di sini. Dari topik 17+8, tuntutan lain, penangkapan aktivis dan warga yang mengerucut menjadi tagar seruan Reset Indonesia. Nama itu juga yang menjadi sebuah buku yang diluncurkan di Pos Bloc, Jakarta, Sabtu (4/10) lalu.
4 jurnalis lintas generasi yang melakukan ekspedisi keliling Indonesia ini adalah Farid Gaban (Boomer), Dandhy Laksono (Gen X), Yusuf Priambodo (Millennial), dan Benaya Harobu (Gen Z). Mereka menghabiskan sekitar 424 hari perjalanan, ekspedisi ini tiba di garis finish pada 28 Agustus 2023 di lokasi yang sama. Dengan total perjalanan 11.000 km dan melewati 27 provinsi, ekspedisi ini membawa pulang 18 terabyte rekaman video dan 12.000 frame foto.
Catatan itu dirangkum bersama dengan berbagai dokumen relevan dari masa lalu dan relevansinya untuk Indonesia sekarang. Sebuah gagasan yang menyoroti masalah-masalah kerusakan lingkungan, politik dan sosial. Dengan kata lain, me-reset Indonesia untuk warga yang menjalani hidupnya sehari-hari.
Dalam Peluncuran; Beberapa Catatan
Dalam perbincangan, acara ini mengundang pengisi kompeten di luar dari 4 penjelajah ini.. Esais yang juga Pemred Narasi, Zen RS dan Manajer Kampanye hutan & Kebun Walhi, Uli Arta S. bercerita soal apa yang paling penting di sebuah buku perjalanan bernama Reset Indonesia ini.
Zen menjelaskan bahwa ekspedisi dan pertemuan langsung adalah esensi penting hari ini, buku Reset Indonesia dan sejumlah dokumenternya itu merekam tokoh paling penting yang jarang muncul atau cuma jadi figuran. Tokoh yang tidak akan muncul di film-film lain. Tokohnya adalah Warga kampung A, warga kampung B di setiap kunjungan tim Ekspedisi Indonesia Baru.
Perbincangan langsung, pertemuan tatap muka dan hidup bareng warga adalah cara yang tepat hari ini menurut Zen. Dalam artian, banyak yang fakta yang bersembunyi di balik angka-angka bagus tapi lain jika dialami jika yang meliput merasakan apa yang sebenarnya mereka rasa, di luar laporan yang sudah dipoles.
Secara tidak langsung ini juga yang disampaikan Uli, ia menjelaskan juga filosofi bumi untuk berbagai masyarakat Indonesia. Bukan sekedar jargon, sesungguhnya untuk masyarakat adat dan warga, Hutan adalah Mama. Dan perjalanan ini menunjukan bagaimana negara memperlakukan ibunya.
Bahwa hutan itu bukan lahan kosong, ada masyarkat adat, ada satu ekosistem yang hidup. Merusaknya berarti merusak satu ekosistem yang berbentuk rangkaian itu. Dan setiap perusakan sering diperhalus, sementara dokumentasi Reset Indonesia adalah hasil mata yang melihat kondisinya langusng.
Catatan Ekspedisi dari yang Sudah Pernah
Farid Gaban mengkritik paradigma yang sudah berjalan. “Kesuksesan pembangunan dari PDB yang diafirmasi “Indeks kebahagiaan” itu bukan tolok ukur. Sementara yang jauh lebih riil adalah jaminan sosial, solidaritas sosial, kelestarian alam dan pemerintahan yang amanah,” tuturnya.
“Kita melihat di Maluku Utara, pertumbuhan ekonominya dicatat sebagai yang tertinggi di dunia. 32%. Tapi bagaimana dengan kerusakan lingkungan juga kemiskinan yang dihadapi warganya sendiri?” lanjutnya.
Kondisi semacam itu yang menurut Farid adalah bom waktu yang harus dibayar generasi Yusuf dan Benaya nanti; Kerusakan alam, ketimpangan yang besar dan utang negara yang membengkak tanpa perbaikan lapangan. “Kondisi ini seperti menuntut korban atas investasi eksraktif, seperti UU Cipta Kerja atau Minerba yang merugikan buruh dan lingkungannya”
Sedang Dandhy Laksono menyoroti soal “negara besar” tapi tidak bisa mendiskusikan dua topik sensitif (Nasionalisme dan agama) dengan santai dan terbuka. Hal tersebut juga ditunjukan dengan partai politik yang masih berporos di nasionalis-religius.
Patriotisme yang menjadikan “negara besar” jadi jawaban sapu jagat soal layanan publik dan kemudian abai soal eksploitasi SDA yang banyak menghasilkan masalah lingkungan.
Dandhy sendiri menoroti bagaimana seharusnya Indoensia bisa lebih fokus kepada mekanisme yang jelas dibanding patriotisme itu. Semacam federalisme yang menjadi sekat untuk melokalisir korupsi (kebocoran) agar tidak tenggelam satu negara jika diibaratkan sebuah kapal.
Di luar tanggung jawab negara, Dandhy juga mengkritik gerakan sosial Indoensia yang reaktif terhadap agenda yang muncul (seperti UU Cipta Kerja, revisi UU KPK), bukan proaktif merumuskan agenda sendiri.
Catatan Generasi Baru
Yusuf sebagai menginjak dewasa dalam sebuah rumah bernama Indonesia yang sudah masuk 80 tahun dan macam rumat reot, banyak tambal sulam tanpa perbaikan fondasi.
Ia menjelaskan pengalamannya ke sejumlah tempat, bertemu Suku Ata Modo di Pulau Komodo yang terpinggirkan akibat pariwisata massal, di mana ruang hidup mereka terus digeser dan mata pencaharian mereka dipaksa berubah. Juga Kondisi masyarakat Labuan bajo, kampungnya berubah menjadi wisata premium tetapi warga lokal masih kesulitan air besih karena fasilitas kewisataan itu.
Buatnya “Kecil itu Indah”, di mana masyrakat adat bisa hidup selaras dengan alam. Bukan hal-hal besar yang masif. Seperti pendidikan di tengah-tengah pembangunan, terkesan kecil tapi perannya besar.
Sebagai orang tua baru, Yusuf menambahkan bahwa bahwa pola pikir adalah kunci untuk perubahan Indonesia ini supaya tak lagi reot dan asal tambal saja.
Benaya sebagai fellow gen-Z menggugat slogan “NKRI Harga Mati” karena banyak orang yang meneriakannya tapi masih tidak tahu di mana pulau Sumba berada. Sebagai yang digadang-gadang generasi Emas, Benaya sendiri merasa cemas karena anak muda menjadi penonton korban dari kebijakan yang eksploitatif.
Dia menyebut buku Reset Indonesia adalah puncak keserahan anak muda yang menginginkan perubahan total, bukan sekadar basa-basi saja.
Buku ini memuat tulisan Republik Drakula yang dimuat 1997 di terbitan Republika, tulisan tersebut dicekal Menpolkam tapi banyak kenyataan yang masih relevan dan ada kondisi yang justru lebih parah daripada saat itu. tulisan 80-90. 17+8 juga ada.
Dalam peluncuran itu ada pula pameran foto 2 ekspedisi lainnya; Zamrud Khatulistiwa (Farid Gaban & Ahmad Yunus) dan Ekspedisi Indonesia Biru (Suparta Arz & Dandhy Laksono).
Buku Reset Indonesia sendiri behasil mencatatkan 2500 eks. pembelian pra-pesan, buku ini masih bisa dibeli lewat informasi akun @idbaruid & @patjarmerah




