Jumat sore (21/11/2025), kawasan Cigadung, Bandung Utara, menawarkan suasana yang berbeda. Sejuknya udara dan aroma roti yang hangat menjadi latar diskusi publik yang segar. Sore itu, Gamma Metrics menyelenggarakan acara bertajuk Ramu Rambat. Acara ini hadir sebagai obat kerinduan terhadap ruang publik yang inklusif.
Dalam diskusi kali ini, Ramu Rambat membawa tema “Mengikat Memori Lewat Rasa, Menegaskan Identitas Lewat Bahan”. Tema ini berusaha menunjukkan bahwa produk kuliner bisa menjadi medium untuk inovasi, sekaligus menegaskan identitas lokal sebagai kekuatan utama dalam bisnis berkelanjutan.
Membawa Seminar ke Ruang Publik
Menghadirkan Deny Willy Junaidy, Ph.D., dan Dr. Aswin Rahadi, MBA. sebagai pembicara, Ramu Rambat berhasil mematahkan perspektif kalau diskusi harus dilakukan di gedung atau ballroom hotel. Mereka memilih Temu Roti, sebuah cafe dan toko roti, sebagai tempat pertemuan yang lebih cair. Sehingga, di Ramu Rambat, kita bisa menemukan pembahasan mendalam di ruang publik yang inklusif.
Suasana yang cair di Temu Roti ternyata tidak mengurangi bobot diskusi. Deny, misalnya, membagikan analisisnya soal potensi kuliner di Bandung. “Ada sekitar 88 ribu brand kuliner di Bandung. Itu artinya peluang kita sangat besar untuk mengembangkan identitas dan budaya kita melalui medium kuliner,” jelas Deny. Audiens pun tampak menyimak dengan khusyuk.
Saat Deny menjelaskan topik kebudayaan, Aswin menerangkan secara detail peluang bisnis di ruang publik. “Bisnis di ruang publik ini bisa diarahkan kepada transit-oriented revenue, EV Charging, ruang untuk beriklan, dan layanan sirkular,” ungkap Aswin. Sehingga, pada akhirnya, audiens bisa mendapatkan sudut pandang yang lengkap tentang peluang bisnis kuliner di ruang publik. Diskusi pun menjadi penuh suka cita saat dipandu oleh Dr. Agus S. Ekomadyo, M.T.
Inspirasi dari Setiap Sisi
Di Ramu Rambat, audiens bisa mendapatkan inspirasi dari setiap konten di dalamnya. Selain diskusi yang mendalam tentang kuliner dan bisnis di ruang publik, Ramu Rambat memberikan pengalaman kuliner baru. Di hadapan semua audiens sudah tersedia Mille Crepe dengan cita rasa colenak. Dina, pembuatnya, menceritakan inovasinya dalam membuat makanan tradisional menjadi lebih modern.
“Mille Crepe rasa colenak ini sengaja dibuat untuk menciptakan menu dari makanan tradisional kita. Kita coba mengemas colenak menjadi masuk ke banyak kalangan,” ungkap Dina. Inovasi yang dilakukan oleh Dina menjadi bukti bahwa makanan bisa menjadi identitas budaya lokal. Upaya ini pun menegaskan bahwa terdapat banyak cara untuk menciptakan peluang ekonomi sambil menyebarkan budaya yang kita miliki.
Selain itu, terdapat sesi Seduh Keluh yang digelar di Ramu Rambat. Seduh Keluh merupakan sesi menyeduh rempah-rempah sesuai dengan keluhan tubuh. Sesi ini ditangani langsung oleh Ming dari Rempah Embassy. Menurutnya, Seduh Keluh bisa merilis stress dari tubuh sekaligus memberikan tubuh kesempatan untuk relaksasi dengan minuman rempah.
“Kalau di Majalengka kita bisa mendengarkan keluhan dari konsumen setiap hari. Akhirnya kita coba kasih minuman rempah asli dari Majalengka. Spesial untuk di sini, kita bikin sesi khusus agar audiens bisa coba Seduh Keluh,” jelas Ming. Rempah-rempah yang disajikan oleh Ming memiliki khasiat untuk mengobati peradangan tubuh, mulai dari radang di saluran pencernaan hingga radang sendi.
Narasi yang diciptakan Ming melampaui apa yang bisa dilakukan dengan rempah-rempah. Di tangan Ming, komoditas yang membuat Indonesia dijajah selama beratus tahun itu kini menjadi medium untuk konsultasi psikologis. Melalui Seduh Keluh, petani rempah pun mendapatkan eksposur yang cukup besar, karena setiap kali menyeduh, Ming menceritakan kisah di balik rempah-rempah tersebut.
Sajian diskusi dan Seduh Keluh dalam Ramu Rambat menciptakan atmosfer yang hangat di Temu Roti. Semua rangkaian acara mengarahkan percakapan ke dalam satu makna, bahwa setiap ruang publik bisa menciptakan pengalaman baru. Seiring pengalaman baru diciptakan, pertumbuhan peluang ekonomi pun bisa terwujud dengan inovasi pada aspek kuliner dan ruang publik. Perlahan, Ramu Rambat bisa menciptakan ruang untuk semua percakapan.




