Jumat (21/11) kemarin, Roadshow Reset Indonesia mampir ke Bandung. Setelah dari Jakarta, perhentian selanjutnya adalah Lentera i-Farm sebuah hub tempat para penemu teknologi pertanian berkumpul dan bereksperimen. Bukan tempat konferensi besar, bukan hotel, tapi ruang kerja warga yang terasa hidup sejak pertama masuk.
Sebelum diskusi dimulai, Farid Gaban dan Benaya Harobu sempat mengobrol dengan pemilik Lentera. Di sini bukan cuma sekadar kebun. Lentera punya laboratorium kecil yang menghasilkan berbagai penemuan praktis berbasis pangan. Misalnya, buah tanpa tambahan gula bisa jadi fruit leather; lalu sampah kulit durian, biji alpukat, dan kulit pisang yang biasanya cuma dibuang diolah jadi tepung non-gluten. Penemuan-penemuan ini ngasih pesan sederhana: kadang solusi ada di depan mata, cuma nggak kelihatan karena kita nggak terbiasa memandangnya sebagai solusi.
Isu Konservasi yang Logikanya Terbalik
Setelah keliling area, diskusi dimulai. Topiknya meningkat dari teknologi pangan ke persoalan Indonesia yang lebih besar lingkungan, masyarakat adat, strategi konservasi, sampai cara kita memaknai kebangsaan.
Benaya mengangkat isu yang sering luput: logika konservasi di Indonesia kadang terasa terbalik. Masyarakat adat yang mempraktikkan budaya “ambil secukupnya” malah jadi pihak yang sering diawasi, sementara pembalakan besar-besaran berjalan di balik narasi pelestarian.
“Ada logika terbalik soal konservasi dan bagaimana kita menanggapinya,” kata Benaya Harobu, Penulis Reset Indonesia dan anggota Ekspedisi Indonesia Baru.
Menurutnya, fokus publik pada drama penjarahan kecil justru bikin pelaku sesungguhnya lolos dari sorotan. Fokus kita pada masalah malah sering menyelamatkan aktor utamanya dari kesalahan.
Kalau CSR Tidak Menyentuh Akar Masalah, Warga Bisa Ambil Alih
Farid kemudian masuk dengan perspektif ekonomi dan kebijakan. Dalam buku Reset Indonesia dijelaskan bagaimana CSR perusahaan kadang justru menjauhkan solusi dari masyarakat terdampak. Kasus Sumatera jadi contoh yang diangkat. Banjir ekologis dengan kayu besar berserakan seharusnya bisa diminimalisir kalau pengelolaan lingkungan dilakukan oleh koperasi warga bukan program CSR dari atas ke bawah.
“Alih-alih CSR, bagaimana kalau koperasi yang dikelola warganya?” ujar Farid Gaban, Jurnalis Senior dan Penulis Reset Indonesia.
Banyak yang menganggap model seperti ini sulit, padahal koperasi energi sudah berjalan di Amerika Serikat. Kalau negara di belahan dunia lain bisa, berarti yang dibutuhkan bukan “bisa atau nggak” tapi “mau atau nggak memprioritaskan”.
Saat Pertanyaan Bergeser dari “Masalah Indonesia” ke “Mimpi Indonesia”
Nah, diskusi kemudian masuk ke ranah yang lebih reflektif: apa sih sebenarnya mimpi kolektif orang Indonesia hari ini? Kita sering merasa cita-cita terbesar adalah “hidup layak dan sejahtera”, padahal mungkin ada sesuatu yang lebih besar yang dulu pernah kita miliki.
Reset Indonesia banyak belajar dari Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa yang melahirkan buku dan gagasan gerakan ini. Pertanyaan yang muncul selama ekspedisi itu justru di luar dugaan:
“Kenapa orang Indonesia masih mau bilang bahwa dia Indonesia?”
Pertanyaan ini nyambung dengan gagasan Benedict Anderson dalam Imagined Communities tentang identitas yang sifatnya diimajinasikan.
Dandhy Laksono memberi pengingat penting bahwa sejak 65, diskursus kita jarang melahirkan ide baru yang berani. Kritik internal terus ada, tapi bentuk solusinya tetap dalam pola lama: pilihan A atau a. Sama tapi beda rasa. Hal seperti ini bikin budaya “critical thinking” dan “tanding gagasan” jadi minim.
Perjalanan Berlanjut ke Ciheras dan Benang Merahnya Makin Terlihat
Setelah sesi di Lentera selesai, Roadshow Reset Indonesia lanjut ke Ciheras. Di sana, mereka bertemu Ricky Elson dan Hendri Djoesan dua tokoh yang mengembangkan Ciheras University, ruang belajar energi terbarukan berbasis warga. Perpindahan dari Bandung ke Ciheras menunjukkan satu pola yang konsisten: karena Reset Indonesia datang dari warga, maka solusinya pun balik ke warga.
Roadshow ini bukan sekadar tur promosi buku. Tujuannya bukan mengulang keluhan tentang Indonesia, tapi mengumpulkan solusi-solusi yang selama ini tersebar di banyak tempat dan tidak mendapat panggung. Terutama di isu yang bikin publik geram akhir-akhir ini: lingkungan, keadilan sosial, dan ekonomi tanding.
Baca juga: Mencatat & Merekam Indonesia: Kesaksian 3 Ekspedisi Keliling Indonesia




