Kambing Hitam Ucapan Bakom: Remote Control Istana?

Pencatutan nama media-media besar oleh Badan Komunikasi pemerintah bukan sekadar insiden administratif. Di balik kegaduhan itu, ada pola yang lebih besar dan lebih senyap: bagaimana negara modern mengelola apa yang kita percaya, apa yang kita bicarakan, dan pada akhirnya apa yang kita anggap benar. Dari kelahiran Committee on Public Information di Amerika era Wilson, hingga kemunculan Bakom di era Prabowo, benang merahnya sama: negara yang merasa berhak menerjemahkan realitas untuk rakyatnya. Yang berubah hanya mediumnya — dari pamflet menjadi buzzer, dari radio menjadi linimasa. Tulisan ini bukan tentang siapa yang bersalah dalam insiden INMF. Ini tentang bagaimana kita, sebagai publik, perlu lebih awas membaca gelagat sebelum pikiran kita selesai diatur tanpa kita sadari.

Sudah Buruh, Informal Lagi: Dewa-Dewi Penghuni Styx di Hades

Sudah Buruh, Informal Lagi Dewa-Dewi Penghuni Styx di Hades

Sebesar 59,4% angkatan kerja Indonesia adalah pekerja informal — mereka yang bekerja tanpa kontrak jelas, tanpa jaminan kesehatan, dan tanpa kepastian hukum dari negara. Bukan segelintir, melainkan mayoritas. Di Hari Buruh ini, sudut pandang kita perlu bergeser: bukan hanya soal upah minimum atau demonstrasi di jalanan, tetapi soal jutaan pekerja yang bahkan tidak terjangkau oleh sistem perlindungan kerja manapun. Tulisan ini menelusuri akar masalahnya — dari lemahnya tata kelola bisnis hingga absennya regulasi yang mengikat — sekaligus menawarkan pelajaran dari Malaysia yang telah lebih dulu membangun sistem perlindungan pekerja informal melalui lembaga seperti SSM dan PERKESO. Sebuah cermin yang, barangkali, sudah lama perlu kita tatap.