Kalé & Ruang-Ruang Bergema di SOS Episode 9

Kalé terbentuk 2015, sekelompok mahasiswa UNIKOM yang menjadikan DIIV, Real Estate, Yellow Fang dan rilisan label Captured Tracks menjadi blueprint. Dream pop versi Kalé itu bukan untuk lari, tapi membuat ruang di kepala pendengarnya.
Menunggu Gebrakan Ample Ke Khalayak: SOS Episode 8

Bandung masih jadi rumah bagi eksperimen dan energi baru di dunia musik, dan Ample adalah bagian dari itu masih meraba, tapi tahu ke mana mereka mau menuju.
Skate, Band, Perjalanan. Showcase Salty Feet Hollowcane di SOS Episode 7

Waktu itu, panggung SOS di Sloow Gudang Utara berjejer wajah yang tidak asing di ranah skateboard. Mulai dari talkshow sampai showcase album baru Hollowcane, Salty Feet. Sebagai band yang berasal dari skena skateboard, The Hollowcane meluncur dengan jalurnya sendiri. Mereka tidak mengikuti arus. Mereka menabrak batasan kultur yang selama ini dilekatkan ke musik skate bahwa musik skate adalah punk, pop punk, punk rock, atau skate punk. Sentuhan musik The Hollowcane justru menghadirkan lorong waktu ke era 2010-an, saat indie rock menggema dari segala penjuru. The Hollowcane bukan sekadar band yang kebetulan muncul dari komunitas skateboard. Mereka adalah produk murni dari dua dunia yang saling bertaut. Latar belakang para anggotanya yang lebih dulu mencintai papan luncur, berpadu dengan gairah bermusik yang tumbuh seiring waktu. Di saat banyak band dari ranah skate memilih jalan punk, The Hollowcane justru menyerap berbagai warna menemukan bentuknya dalam indie rock yang melankolis, agak murung, dan jujur. Dalam setiap proses kreatifnya, mereka memegang erat prinsip Do It Yourself (DIY). Dari penulisan lirik, aransemen musik, sampai produksi video klip, semuanya mereka tangani sendiri. Bagi mereka, musik bukan produk massal yang dikejar pasar, tapi ekspresi yang tumbuh dari obrolan sore hari, dari luka-luka kecil selepas skate-an, dari kegelisahan yang tidak bisa disalurkan lewat olah tubuh. Karya-karya mereka, meski mentah, justru terasa jujur dan tanpa tipu-tipu. Tentu, perjalanan The Hollowcane tidak selalu mulus. Seperti banyak band indie lainnya, mereka dihantam perubahan formasi dan pergulatan mencari “suara” yang pas. Secara teknis, mixing dan mastering sudah terdengar cukup solid drum dominan di depan dan cukup menggigit. Meski begitu, beberapa aransemen masih terasa belum matang dan membutuhkan pendalaman lebih lanjut. Namun, semangat yang mereka bawa sebagai sebuah afterwork band—band yang lahir dari sisa energi setelah kerja, dari selipan waktu di antara kesibukan, dari komunitas yang tetap setia adalah kekuatan utama mereka. The Hollowcane bukan cuma sedang membangun karier, mereka sedang membangun tempat berpulang. Tempat di mana musik, komunitas, dan kenangan lama saling berpelukan. Di tengah laju hidup yang makin cepat, mungkin itulah yang paling penting sekarang.
The Pilot that Starts Everything: Marshella Safira di Sound of Spotted Episode 0

Konsep Sound of Spotted yang “memberi lampu sorot” kepada mereka yang berkarya dan mau let’s go, sudah mulai tumbuh tunasnya sejak penampilan Shella ini.
Slumbers Jajak EP Baru di SOS Episode 8

Alih-alih berbunga-bunga ketika bicara soal romansa, Slumbers memilih pesimis, eh maksudnya, melankoli. Debut EP mereka yang berjudul Everything Seems Upside Down, We’re Just Frozen in Time, mereke menyajikan rasa kehilangan yang terlalu lama dipendam hingga jadi kebas.
Catatan Bersih-Bersih Gunung Guntur: Masalah Sampah Bukan Cuma Tanggung Jawab Pengelola

Pengelola tempat wisata seringkali menjadi kambing hitam atas urusan apa pun. Tempat parkir yang penuh, akses jalan yang buruk, fasilitas penunjang wisata yang kurang, hingga tumpukan sampah di sudut-sudut yang tak terlihat mata—semua salah pengelola. Ketika ditanya, “Kok banyak banget tumpukan sampah? Siapa sih yang tanggung jawab?” maka template jawabannya: “Ini tanah dikelola oleh PT. A. Coba tanya aja ke mereka.” Jawaban itu terlalu kekanak-kanakan dan tidak menyelesaikan permasalahan yang sesungguhnya. Itu menunjukkan seolah-olah semua kondisi yang terjadi di lingkungan tempat wisata adalah tanggung jawab pengelola semata. Padahal, menjaga lingkungan adalah kewajiban dari semua makhluk yang ada di muka bumi. “Untuk masalah sampah ini memang harus diawali dari sistem yang tepat. Kita harus lihat dari sisi manusianya—sampah ini dari mana datangnya? Apa jenisnya? Bagaimana sistem pengelolaan sampah warga sekitar? Bagaimana dengan yang dilakukan pengelola? Semua harus ditelusuri agar ada aksi yang tepat untuk masalah sampah ini,” jelas Kurnia, Pecinta Alam & Aktivis Lingkungan Garut. Temuan dari kegiatan Bersih Gunung Guntur menunjukkan bahwa ada masalah dalam sistem pengelolaan sampah di sekitar Situ Cibeureum. Rata-rata sampah yang ditemukan adalah sampah rumah tangga—popok bayi, kemasan sabun cuci, makanan ringan, dan minuman sachet. Setelah berdiskusi dengan petani yang beraktivitas di sekitar sana, terungkap bahwa kawasan tersebut memang tidak memiliki Tempat Pembuangan Sementara (TPS). “Wajar kalau warga buang sampah sembarangan. Soalnya nggak ada TPS, artinya nggak ada pengangkutan sampah rumah tangga secara berkala. Jadi awalnya masyarakat buang sampah ke tebing. Setelah tebing ditutup, mulai buang ke Situ Cibeureum, di pinggir jalan, di cekungan. Aksi setelah ini adalah koordinasi dengan ketua RW setempat untuk meminta pengangkutan sampah di kampung-kampung sekitar sini,” ungkap Rusdi, Founder The Forest Ranger. Melalui program Bersih Gunung, The Forest Ranger tidak hanya membersihkan area gunung, tetapi juga mencoba melihat permasalahan lingkungan dari sisi aktivitas manusia dan sistem yang mendukungnya. Sehingga kegiatan ini bukan sekadar pemungutan sampah, tapi sebuah upaya untuk memahami dan menyelesaikan akar masalahnya. “Ada kita, alam bersih. Nggak ada kita, alam tetap bersih. Itu bukti dari kegiatan kita sudah berhasil,” pungkas Kurnia.
Menjarah Sampah di Gunung Guntur

he Forest Ranger menginisiasi gerakan Bersih Gunung Guntur. Inisiasi ini akhirnya disambut baik oleh berbagai pihak yang memberikan dukungan peralatan dan pengangkutan sampah, di antaranya adalah D’Russa Leather, Perhutani, Dinas Lingkungan Hidup Kab. Garut, BKSDA Kab. Garut, KPA REKAPALA Garut, dan Nomade Leatherworks.
Pastel Badge, Indiepop dan Malam yang Hangat di SOS Episode 6

Album ini dibawakan apik oleh formasi Tanti Sopia, Rifky Aldiansyah, Andri Arecun, Ahmad Rifqi, dan Hedi Heriawan. Singkatnya, Pastel Badge mengajak kita untuk memandang hidup yang banyak likunya ini dengan sederhana, To the fullest.
Mendengarkan “Fade” di SOS Episode 5

Puremoon yang digawangi oleh Naufal Ikhsan, Bryan Arkan, Irfan Alhafizh, dan Rafi Azani memperdengarkan “Fade” di Sound of Spotted (SOS) episode 5, di Sloow Gudang Utara. Penampilan mereka sukses menarik perhatian, menambah kesan mendalam terhadap lagu yang sudah lebih dulu terasa emosional di album.
Dongker Latihan “Ceriwis Necis” Sebelum Tur Panjang 2024 di SOS Episode 4

Di antara enam band yang tampil di Sound of Spotted, Dongker adalah salah satu yang paling ngena dan berkesan. Ini lebih dari sekadar penampilan musik, ini soal vibe yang memang se-crowd surf itu.