Turbokidz & Wolfza di SOS Episode 13

Ican Pane, otak di balik proyek ini, membawa energi yang kontras namun saling melengkapi dengan Wolfza. Jika Wolfza menyajikan city lights dalam bentuk suara, Turbokidz membawa cerita jalanan yang hidup dengan alunan synth-pop dan riff gitar khas mereka.

Interview Rafi Sudirman di SOS Episode 11

Rafi Sudirman pertama kali tampil full band di Bandung. Sound of Spotted: Senyam-Senyum Mini Tour (Episode 11) mengubah lantai Sloow Otten jadi lantai dansa muda-mudi kasmaran. Ingar bingar lagu Senyam-Senyum bikin kita punya fall in love anthem pas lagi kasmaran.

Downtown Market Away Day: Sound of Spotted Episode 10

Waktu itu 31 Agustus 2024, White Chorus, Couch Club, Bleach dan Heals (DJ Set) main ke Sloow Gudang Utara. Satu set itu boleh kita sebut Downtown Market Away Day, tapi sebenarnya disebut sebagai Another VVeekend sebagaimana MIngguliburpodcast menyebutnya di laporan Discover Vol. 3 lalu.

DYGL Pemanasan di SOS  Episode 14 Sebelum Ke Joyland

Alih-alih touchdown di Jakarta, DYGL ‘diculik’ dulu ke Bandung, mereka akan menggelar konser intimate dan eksklusif di di Sloow Otten, ide ini  digagas oleh Rihels Agency, juga ambassador Brando Ori, Saradan Brez pada Sabtu, 23 November 2024.

Kalé & Ruang-Ruang Bergema di SOS Episode 9

Kalé terbentuk 2015, sekelompok mahasiswa UNIKOM yang menjadikan DIIV, Real Estate, Yellow Fang dan rilisan label Captured Tracks menjadi blueprint. Dream pop versi Kalé itu bukan untuk lari, tapi membuat ruang di kepala pendengarnya.

Skate, Band, Perjalanan. Showcase Salty Feet Hollowcane di SOS Episode 7

Waktu itu, panggung SOS di Sloow Gudang Utara berjejer wajah yang tidak asing di ranah skateboard. Mulai dari talkshow sampai showcase album baru Hollowcane, Salty Feet.  Sebagai band yang berasal dari skena skateboard, The Hollowcane meluncur dengan jalurnya sendiri. Mereka tidak mengikuti arus. Mereka menabrak batasan kultur yang selama ini dilekatkan ke musik skate bahwa musik skate adalah punk, pop punk, punk rock, atau skate punk. Sentuhan musik The Hollowcane justru menghadirkan lorong waktu ke era 2010-an, saat indie rock menggema dari segala penjuru. The Hollowcane bukan sekadar band yang kebetulan muncul dari komunitas skateboard. Mereka adalah produk murni dari dua dunia yang saling bertaut. Latar belakang para anggotanya yang lebih dulu mencintai papan luncur, berpadu dengan gairah bermusik yang tumbuh seiring waktu. Di saat banyak band dari ranah skate memilih jalan punk, The Hollowcane justru menyerap berbagai warna menemukan bentuknya dalam indie rock yang melankolis, agak murung, dan jujur. Dalam setiap proses kreatifnya, mereka memegang erat prinsip Do It Yourself (DIY). Dari penulisan lirik, aransemen musik, sampai produksi video klip, semuanya mereka tangani sendiri. Bagi mereka, musik bukan produk massal yang dikejar pasar, tapi ekspresi yang tumbuh dari obrolan sore hari, dari luka-luka kecil selepas skate-an, dari kegelisahan yang tidak bisa disalurkan lewat olah tubuh. Karya-karya mereka, meski mentah, justru terasa jujur dan tanpa tipu-tipu. Tentu, perjalanan The Hollowcane tidak selalu mulus. Seperti banyak band indie lainnya, mereka dihantam perubahan formasi dan pergulatan mencari “suara” yang pas. Secara teknis, mixing dan mastering sudah terdengar cukup solid drum dominan di depan dan cukup menggigit. Meski begitu, beberapa aransemen masih terasa belum matang dan membutuhkan pendalaman lebih lanjut. Namun, semangat yang mereka bawa sebagai sebuah afterwork band—band yang lahir dari sisa energi setelah kerja, dari selipan waktu di antara kesibukan, dari komunitas yang tetap setia adalah kekuatan utama mereka. The Hollowcane bukan cuma sedang membangun karier, mereka sedang membangun tempat berpulang. Tempat di mana musik, komunitas, dan kenangan lama saling berpelukan. Di tengah laju hidup yang makin cepat, mungkin itulah yang paling penting sekarang.

Slumbers Jajak EP Baru di SOS Episode 8

Alih-alih berbunga-bunga ketika bicara soal romansa, Slumbers memilih pesimis, eh maksudnya, melankoli. Debut EP mereka yang berjudul Everything Seems Upside Down, We’re Just Frozen in Time, mereke menyajikan rasa kehilangan yang terlalu lama dipendam hingga jadi kebas.