Animator Pakistan, Junaid Miran, kalang kabut setelah melihat enam karakter 3D buatannya digunakan begitu saja dalam film animasi Indonesia Merah Putih: One for All. Junaid amat geram setelah film yang bertemakan persatuan dalam keberagaman Indonesia ini tidak memberikan kredit atas karakter buatannya.
Tuduhan Enam Karakter Tanpa Kredit
Kontroversi ini terjadi ketika Junaid Miran menemukan enam karakter 3D ciptaannya muncul dalam film Merah Putih: One for All. Setelahnya Junaid menuduh bahwa studio produksi menggunakan aset tersebut tanpa izin, tanpa kompensasi, dan tanpa memberikan kredit. Tuduhan ini dengan cepat menyebar di media sosial dan forum kreator. Perdebatan tentang hak cipta dan etika pemakaian aset digital dalam industri animasi mulai mencuat.
Menanggapi tuduhan itu, pihak produksi melalui sutradara Endiarto menegaskan bahwa semua karakter dibuat dengan lisensi sah dan dikembangkan secara internal.
“Pemakaian aset digital di marketplace itu adalah hal yang wajar dan sah-sah saja. Kita hanya basic-nya saja, lalu kita sesuaikan dengan karakter yang sudah kita desain di awal,” disampaikan Ediarto kepada Medcom (13/9).
Namun, publik menilai klarifikasi tersebut belum sepenuhnya menjawab isu inti, yaitu soal penghargaan moral terhadap kreator independen.
Rencana Gugatan Hukum
Tidak puas dengan klarifikasi, Junaid menyatakan kesiapannya membawa kasus ini ke ranah hukum. Dalam beberapa unggahan videonya, ia mengaku sudah menyiapkan dokumen gugatan.
“Saya sudah mengalahkan rasa takut. Kasus ini akan saya bawa ke jalur hukum internasional,” ujar Junaid dalam salah satu video di kanal YouTube.
Melalui video itu, Junaid menekankan bahwa perjuangan ini bukan tentang uang, melainkan tentang pengakuan atas kerja keras dan visinya. Jalur hukum yang akan ditempuh pun merupakan perjuangan terakhir yang ditempuh Junaid untuk sebuah pengakuan.
Untuk membiayai langkah hukum, Junaid meluncurkan kampanye crowdfunding melalui Patreon. Ia merilis 10 karya digital eksklusif seharga USD $5 (sekitar Rp 82 ribu). Langkah ini mendapat dukungan luas, terutama dari publik Indonesia. Banyak warganet menilai crowdfunding tersebut bukan hanya soal biaya, tetapi juga simbol solidaritas seniman global melawan ketidakadilan.
Dialog Penutup dengan Bintang Takari
Semua upaya yang dilakukan Junaid berakhir. Dalam video YouTube terbaru (4 September 2025), Junaid mengumumkan bahwa ia telah berbicara langsung dengan pencipta film, Bintang Takari. Pertemuan itu berlangsung tanpa pengacara, tanpa ketegangan, hanya percakapan antara Junaid dan Bintang.
“Bintang mendengarkan. Ia memahami situasinya, mengapresiasi perjuangan saya, dan setuju untuk memberikan kredit yang semestinya,” jelas Junaid dalam videonya.
Bagi Junaid, inilah yang ia perjuangkan sejak awal: pengakuan. Seorang kreator pastinya akan sangat senang jika karyanya diapresiasi dan diketahui oleh publik. Akan tetapi, penggunaan karya untuk tujuan komersial bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dengan semena-mena.
“Pertarungan ini tidak pernah tentang uang, hanya tentang pengakuan. Dan sekarang kita sudah memilikinya,” tambahnya.
Akhir Perjuangan Junaid
Setelah menerima pengakuan resmi, Junaid memutuskan untuk mengembalikan semua donasi yang sempat dikumpulkan. Ia bahkan akan membagikan karya digital tersebut secara gratis.
“Semua donasi itu akan dikembalikan… karya-karya itu tetap menjadi milik kalian sebagai tanda terima kasih kecil dari saya,” ujar Junaid. Ia menutup kasus ini dengan pesan emosional kepada para pendukungnya.
“Kalian bukan lagi sekadar penonton, kalian telah menjadi keluarga. Komunitas yang terikat oleh seni, rasa hormat, dan keadilan,” kata Junaid.
Sengketa Merah Putih: One for All menjadi pelajaran berharga bagi industri animasi. Kasus ini membuktikan bahwa persoalan hak cipta masih belum menjadi fokus utama di industri tanah air. Semestinya kasus ini menjadi pukulan bagi industri kreatif. Cerita ini harus menjadi pengingat bahwa penghargaan pada karya sama pentingnya dengan aspek legalitas.
Baca juga: Semua Orang Akan Ikhlas Kalau Jumbo Melanjutkan Kisahnya




