Instalasi ini sebenarnya adalah majalah, dan ia mengajakmu untuk bercengkrama
Kami lelah berbasa-basi dengan model zine biasa. Isunya penting tapi pembacanya sedikit dan terbatas walaupun aksesnya gratis dan everybody can copy. Dari hal tersebut, kami melihat masalah keridakterbacaan bukan lah tentang isi, tapi format apa yang ditawarkan.
Di atas kertas tingkat literasi Indonesia rendah. Hal itu cukup berdampak pada fenomena-fenomena di ruang diskusi yang acap kali minim bertukar tangkap argumen. Jangankan berargumen, membaca berita hari ini pun mungkin minim. Rata-rata publik tergerus arus media sosial, di mana informasi dikemas dengan grafis, realtime, dan ada videonya. Akan sangat mudah bagi kita menemukan orang sedang scrolling dibanding membuka halaman kertas. Dengan kondisi tersebut, kini pilihannya dua, memilah isu atau menikmati visual dari berbagai hal.
Bicara soal arsip, kita sering kali disuguhkan satu bundel dokumentasi tentang tahun-tahun yang lampau. Kita benar-benar harus membuang pikiran bahwa orang lain pun sama antusiasnya dengan kita ketika bertemu arsip. Karena kami memandang membaca arsip tak cukup untuk meneroka sejarah, arsip harus dibebaskan, interaktif, dan berkesan bagi publik. Dengan begitu, keberanian publik dapat terpupuk untuk menulis sejarah, setidaknya tentang dirinya sendiri.
Lantas bagaimana caranya membuat publik yang secara data hanya memiliki 5 detik untuk terlibat dalam aktivitas literasi? Kami menjawabnya dengan mengubah ruang menjadi majalah. Tidak seperti konsep majalah dinding yang kita kenal di sekolah, tapi kami mempermainkan kemungkinan ruang untuk mendapat sentuhan desain seperti apa dengan tujuan informasi lebih eye catching dan memberi experience lain.
Unravel Palestine adalah majalah pertama yang kami buat di ruang bekas toko yang tidak kunjung terisi di The Hallway Space, Kota Bandung. Di dalamnya ada halaman-halaman yang berkisah tentang tahun-tahun yang terlewati di Palestina sekaligus tempat untuk siapapun berpose sebagai statement bahwa mereka mengecam genosida dan mendukung Palestina merdeka.
Cara tersebut sangat berhasil, berbagai isi pikiran publik ketika majalah ruang ini dibuka banyak disampaikan melalui tulisan tangan mereka di tembok yang kami namai tembok untuk Palestina. Di sana ada doa, makian, harapan, dan gagasan yang ditujukan untuk negara yang kemerdekaannya dirampas.
Representasi, Mewakili Keterbacaan; Sisi-Sisi Unravel Palestine
Kita tak mau kalah dengan karyawan leasing kendaraan yang selebarannya diperhatikan baik-baik oleh publik meskipun sedang asik bertamasya ke mal. Oleh karena itu di The Hallway Space, kami ingin publik dengan latar apapun bisa memperhatikan arsip yang kami hidupkan.
Kami tidak tahu siapa yang datang dan tipe pembaca seperti apa yang mampir. Yang kami tahu, hampir semua orang berharap setidaknya bisa membawa pulang satu foto yang bagus. Bukankah itu alasan yang cukup untuk membuat orang sedikit lebih dekat dengan aktivitas membaca?
Di sisi kanan ruang, pengunjung akan menemukan sebuah lubang di tembok berjudul Echoes of Resistance karya Living Society Media (LS). Di sana, 170 pasang mata mewakili 170 jurnalis (data Oktober 2023–April 2025) yang gugur akibat serangan zionis Israel. Di sekitarnya terpasang artikel transparan dan poster yang dapat dipindai dan dibawa pulang secara cuma-cuma.
Di sebelah kiri, tertulis pengantar Unravel Palestine yang sekaligus menjadi tribut untuk font khas Amenkcoy figur yang kerap mengabarkan dan mengomentari situasi sosial lewat zine dan karya visualnya.
Masuk lebih dalam, sebuah convex mirror menggantung dan mengajak pengunjung berfoto di tengah instalasi arsip yang besar. Di tembok, kami sediakan ruang untuk berinteraksi dengan spidol. Respon pengunjung muncul dalam berbagai bentuk: kalimat pendek, grafiti, maupun gambar.
Laku-laku interaksi ini membuat orang yang semula segan berhadapan dengan arsip jadi ikut terlibat. Ada yang menulis, menggambar, atau sekadar berfoto sendiri, bersama kawan, atau bersama keluarga. Pertanyaannya: zine mana yang memungkinkan satu keluarga berinteraksi langsung dengan arsip seperti ini?
Beranjak ke sisi lain ruang, terdapat kutipan dari reruntuhan serangan pertama. Foto rujukannya menampilkan terjemahan Indonesia yang sudah umum beredar, tetapi kami mencoba membacanya lebih rinci dan meraih makna yang lebih jauh. Alih-alih memajang foto dokumentasi, kami memilih membuat remake langsung di tembok. Pameran arsip konvensional sudah terlalu sering menjadikan foto sebagai objek pasif; sementara mural, sejak awal, memang diciptakan untuk “berbicara” sendiri.
Di dekatnya, puisi berjudul “Kerudung” karya Fajar Ramadan yang pernah hadir dalam helatan Pertemuan Penyair Asia ikut menjadi bagian dari ruang. Puisi ini terinspirasi dari lagu “Atouna el Toufoule” yang dinyanyikan anak-anak Palestina yang turut menjadi korban genosida.
Pada sisi lain lagi, samar-samar pengunjung dapat mengenali mural Banksy yang pernah terdokumentasi di tembok pemisah Israel–Palestina pada 2005. Kami tidak memajang foto arsipnya, melainkan me-remake-nya di tembok, karena bagi kami pengunjung datang untuk berhadapan dengan ruang dan dinding yang hidup, bukan sekadar dengan tumpukan arsip yang membisu.
Arsip yang Malang, Arsip yang Bicara
Sebagai penutup, di tengah ruang berdiri sebuah instalasi berukuran 5 x 3 meter. Di sana kami mengumpulkan 59 edisi naskah yang membicarakan Palestina, sejak 1908 hingga April 2025. Tahun 1908 diwakili oleh koran pertama Palestina, Al-Quds, yang kami dokumentasikan setelah berkorespondensi dengan The Palestinian Museum sebelum serangan kembali mengganas pasca Maret 2025.
Koran dan majalah yang tersaji hadir dalam berbagai bahasa: Prancis, Inggris, Arab, Indonesia, Melayu, dan lainnya. Mereka berasal dari edisi-edisi yang secara konsisten mendukung pengentasan penjajahan di Palestina. Salah satu yang mudah menarik perhatian adalah majalah Free Palestine yang diterbitkan mahasiswa Amerika pada medio 1970–1980-an, ketika isu Palestina tidak sepopuler wacana Nuclear Doomsday atau manuver keras Presiden Nixon kala itu.
Ada pula koran harian Palestina yang memuat peristiwa Gestok di Indonesia dan memberi perhatian khusus kepada Soekarno. Di sudut lain, majalah Daily Palestine mengabarkan intifada pertama hingga istilah itu mengemuka, berdampingan dengan majalah TEMPO edisi 1988 yang memakai judul begitu tepat: Marah Kepada Israel.
Salah satu bagian dari naskah-naskah ini menyoroti peran dokter yang menulis bagaimana praktik kekerasan dan percobaan terhadap manusia sudah jauh-jauh hari berlangsung di tanah Palestina. Rangkaian arsip ini menunjukkan dengan jelas bahwa narasi “semua dimulai 7 Oktober” adalah kebohongan dan dalih keji untuk melanggengkan genosida.
Jika masih ada yang menyebut situasi ini sebagai “perang”, berarti ia menutup mata terhadap sejarah panjang intrik imperialisme yang dimulai dari Deklarasi Balfour hingga Nakbah, yang kemudian melahirkan state Israel. Bayangkan memasang bendera penjajahmu tepat di samping bendera yang kau klaim paling kau cintai. Bagaimana rasanya? Itulah kira-kira gambaran solusi two-state solution yang sempat dipromosikan pada medio 1980–1990-an dan bisa disimak lewat arsip-arsip ini: tidak mengubah apa pun, sambil menelanjangi watak kolonial para sponsornya.
Kita sangat akrab dan menyimpan dendam kolektif pada kata “penjajahan”. Kata itu berdengung dan menyayat. Namun, seperti diingatkan Wijaya Herlambang, pasca ’65 pelajaran sejarah di sekolah lebih sering melahirkan artefak bisu. Arsip, alih-alih mengajak orang terlibat, justru menjauhkan mereka dari upaya pembebasan. Berbeda dengan kronik-kronik Pramoedya Ananta Toer atau Muhidin M. Dahlan yang mengajak pembacanya masuk ke percakapan yang lebih substansial.Di Unravel Palestine, kami mencoba membuat arsip yang tidak lagi malang dan bisu, melainkan bicara dan menggugat. Semua bukti ini kami kumpulkan dalam satu instalasi di The Hallway Space, Pasar Kosambi, Bandung. Dan kamu bisa turut serta.








