Widi Maliq D’Essential Di Sinergi Suara Lagu kita gak akan nyampe ditelinga pendengar tanpa pedagang

Widi Maliq D’Essentials membahas paradigma baru dalam industri musik di Sinergi Suara Bandung. Bukan sekadar mencipta lagu, tetapi membangun bisnis kreatif yang berkelanjutan melalui IP dan strategi brandband.
Widi Maliq D'Essential Di Sinergi Suara Lagu kita gak akan nyampe ditelinga pendengar tanpa pedagang

Share:

Sinergi Suara kembali digelar, kali ini di Hafa Warehouse, Bandung. Program yang diprakarsai Pop Hari Ini bersama Langit Musik dan didukung Kementerian Ekonomi Kreatif ini menjadi ruang refleksi bagi para musisi mengenai karya, pasar, dan manajerial. Empat band terpilih seperti Basajan, John Karwati, Balaromantica, dan Kataswaramusic hadir sebagai peserta yang dikurasi dari 315 band di lima kota. Tujuan utamanya adalah menghubungkan talenta potensial dengan pelaku industri.

Profesionalisme sebagai fondasi awal Maliq & D’Essentials

Dalam sesi workshop, Widi Puradireja membuka pembahasan dengan pernyataan yang langsung menangkap perhatian: “Lagu kita gak akan nyampe di telinga pendengar tanpa pedagang.” Kalimat itu menjadi pintu masuk ke perjalanan awal Maliq & D’Essentials. Sejak mula, mereka memilih profesionalisme sebagai pondasi dibanding rasa kekeluargaan. Struktur band mereka dibuat layaknya perusahaan berbadan hukum dengan disiplin, pembagian peran, dan etos kerja. Menariknya, pendekatan yang tegas justru menumbuhkan rasa kekeluargaan karena semua personel bergerak dalam arah yang sama.

Ketika band berubah menjadi brand

Widi menjelaskan bahwa sejak awal Maliq melihat band bukan hanya sebagai unit kreatif, tetapi juga sebagai entitas bisnis. Dari sudut pandang ini lahirlah konsep brandband. Band tidak hanya mengeluarkan karya, tetapi juga membangun citra, nilai, dan strategi bisnis jangka panjang.

Lagu bukan sekadar karya tapi produk dengan umur panjang

Salah satu pernyataan paling kuat dalam workshop adalah ketika Widi berkata: “Maliq & D’Essentials tidak bikin lagu lagi, tapi produk.” Ia memaparkan contoh paling konkret. Pendapatan royalti lagu “Untitled” ternyata lebih kecil daripada penjualan parfum hasil kolaborasi Untitled x HMNS. Nilai ekonomi karya bisa berlipat ketika lagu dibentuk ulang menjadi pengalaman dan identitas brand.

IP sebagai strategi berkarya dan berbisnis

Cara pandang bahwa lagu adalah intellectual property atau IP mengubah cara Maliq berkarya. Menurut Widi, proses kreatif sekarang membutuhkan batasan strategis agar karya dapat diperpanjang menjadi berbagai bentuk dan pengalaman lain. Ia mencontohkan proses kreatif lagu Terang yang awalnya hanya berasal dari celetukan santai “Senja Teduh Pelita Air.” Dari gagasan spontan itu kemudian berkembang konsep visual hingga karakter “pilot ala-ala” yang diperankan Widi. Musik tidak berhenti di audio. Ia berkembang ke estetika visual, merchandise, dan pengalaman penggemar.

Bertahan bukan soal seberapa tinggi tetapi seberapa lama

Di sesi diskusi, banyak refleksi muncul dari peserta. Salah satu yang paling membekas datang dari Dimas Joey: “Bertahan di industri bukan tentang how high band yang kamu jalani, tapi how long band kamu bisa sustain.” Kalimat ini menguatkan benang merah dari workshop. Musisi tidak hanya perlu menciptakan karya, tetapi juga membangun struktur untuk keberlanjutan agar tetap relevan di industri yang terus berubah.

Penampilan empat band terpilih sebagai penutup

Acara ditutup dengan penampilan dari Basajan, Balaromantica, John Karwati, dan Kataswaramusic. Momen tersebut menjadi penegasan bahwa teori dan praktik saling bertemu di panggung. Band dapat menciptakan karya sambil menata arah bisnisnya.

Sinergi Suara bukan hanya workshop. Ia menjadi ruang untuk memahami ulang cara pandang terhadap industri musik. Melalui pengalaman Maliq & D’Essentials, terlihat bahwa proses mencipta karya tidak harus bertentangan dengan keberlanjutan bisnis. Ketika keduanya saling menguatkan, lagu punya kesempatan lebih besar untuk benar-benar sampai ke telinga pendengar.

Baca juga: Soft Power Indonesia dalam Diplomasi Budaya Dunia? Ya Musik, Film, Game, Visual!