Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke zona merah. Pada perdagangan Senin (8/9/2025), IHSG ditutup melemah 1,02% ke level 7.086, sehari setelah Presiden Prabowo menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Tekanan berlanjut pada Selasa (9/9/2025), di mana IHSG terjun lebih dalam, turun 1,78% ke level 7.628,6. Penurunan ini mencerminkan sentimen pasar yang pesimis, di tengah transisi figur penting yang selama ini dipandang sebagai jangkar stabilitas fiskal Indonesia.
Investor Asing Tarik Modal
Keresahan pasar terlihat jelas dari perilaku investor asing. Menurut data Bloomberg (8/9/2025), arus modal keluar tercatat signifikan dengan aksi jual bersih (net sell) lebih dari Rp1,2 triliun. Lonjakan outflow asing ini memberi sinyal bahwa pergantian mendadak di kursi menkeu dianggap sebagai risiko baru terhadap kepastian kebijakan fiskal.
Investor global selama ini menilai Sri Mulyani sebagai figur kredibel dengan komitmen disiplin fiskal yang kuat. Ketiadaan sosok yang mampu memberikan jaminan serupa membuat pasar lebih berhati-hati. Mengutip dari Reuters (9/9/2025), investor membutuhkan kepastian, bukan sekadar janji pertumbuhan tinggi.
Data Perdagangan: Tekanan Lebar, Big Caps Terpukul
Koreksi IHSG pada 8 September 2025 terjadi secara meluas. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip The Iconomics (8/9/2025) menunjukkan 9 dari 11 indeks sektoral ditutup di zona merah, dengan sektor keuangan dan energi memimpin pelemahan.
Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi target utama aksi jual asing. Bank Central Asia (BBCA) terkoreksi 1,4%, Bank Mandiri (BMRI) turun 1,1%, sementara Astra International (ASII) dan Perusahaan Gas Negara (PGAS) melemah masing-masing 1,2% dan 1,6%. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan anjlok 0,9%.
Tekanan berlanjut pada 9 September 2025. Data intraday dari TradingView IDX30 index (9/9/2025) menunjukkan pelemahan lebih dalam di sektor keuangan:
- Finance: BBCA –2,27%, BMRI –4,01%, BBNI –2,39%, BBRI –2,82%, ARTO –1,50%
- Non-Energy Minerals: BRPT 0,00%, INCO +1,28%, SMGR –1,44%, MBMA +0,93%, MDKA +2,27%, ANTM +1,39%
- Consumer Non-Durables: ICBP –1,60%, INDF –1,01%, UNVR –2,36%
- Technology Services: ASII +1,84%, GOTO –3,45%
- Energy Minerals: UNTR +2,84%, ANDRO –2,03%, MEDC +1,23%, PTBA –0,41%
- Process Industries: CPIN –1,10%, INKP –3,49%
- Retail Trade: AMRT –1,44%, MAPI –1,75%
- Health Technology: KLBF –0,87%
- Utilities: PGAS 0,00%
- Distribution Services: AKRA 0,00%
Meski beberapa saham berbasis komoditas dan teknologi mampu mencatatkan penguatan (UNTR +2,84%, MDKA +2,27%, ASII +1,84%), mayoritas big caps menunjukkan koreksi tajam, terutama di sektor keuangan dan konsumer.
Menurut analis yang dikutip Bloomberg (9/9/2025), gelombang aksi jual pada saham unggulan selama dua hari perdagangan berturut-turut ini menunjukkan “reposisi portofolio besar-besaran yang mencerminkan hilangnya keyakinan jangka pendek terhadap arah kebijakan fiskal.”
Blunder Menkeu di Hari Pelantikan
Guncangan pasar semakin terlihat setelah Menkeu Purbaya memberikan pernyataan publik yang menuai sorotan tajam. Saat menanggapi tuntutan masyarakat sipil terkait agenda ekonomi, Purbaya mengatakan:
“Saya belum mempelajari itu (tuntutan 17+8), tapi basically begini, itu kan suara sebagian kecil rakyat kita. Kenapa, mungkin sebagian ngerasa keganggu, hidupnya masih kurang ya. Once saya ciptakan pertumbuhan ekonomi 6 persen, 7 persen, itu akan hilang dengan otomatis. Mereka akan sibuk cari kerja dan makan enak dibandingkan mendemo.”
–Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan (dikutip dari Strategi_Bisnis, 8 September 2025)
Pernyataan ini memicu kritik tajam. Sejumlah ekonom menilai gaya komunikasi Purbaya cenderung arogan dan tidak sensitif, sehingga memperburuk persepsi pasar yang sudah gelisah. Menurut analis yang dikutip Reuters (8/9/2025), komunikasi yang buruk di hari pertama menjabat berisiko menggerus kredibilitas lebih dalam dibandingkan ketidakpastian kebijakan itu sendiri.
Kekhawatiran Struktural
Selain guncangan jangka pendek akibat pergantian Menteri Keuangan, pasar juga menyoroti faktor struktural yang lebih dalam. Aliansi Ekonom Indonesia melalui “Tujuh Desakan Darurat Ekonomi” memberikan catatan serius yang kini makin relevan dengan arah sentimen investor.
- Kualitas pertumbuhan & upah riil
Tren pertumbuhan yang melambat kualitasnya, ditambah stagnasi upah riil, memperkecil buffer konsumsi rumah tangga. Kondisi ini membuat saham domestik lebih rentan terhadap guncangan kebijakan fiskal. - Ketimpangan & kesempatan kerja
Dominasi penciptaan kerja di home-based enterprise berupah rendah memperlemah earnings visibility pada sektor non-komoditas. Isu ini kerap menjadi perhatian investor institusional. - Tata kelola & teknokrasi
Sorotan pada independensi institusi seperti BI, BPS, KPK, dan BPK, serta kebutuhan kebijakan berbasis bukti, menjadi sinyal penting yang sangat dihargai pasar. - Dominasi negara & birokrasi perizinan
Risiko crowding out sektor swasta dan beban regulasi yang berat dapat menekan risk appetite investor jangka panjang. - Disiplin fiskal
Aliansi juga mendesak agar program populis diuji melalui regulatory impact assessment (RIA), piloting, dan evaluasi dampak selaras dengan kebutuhan pasar atas kebijakan yang prudent, predictable, dan transparent.
Poin-poin tersebut, bila direspons cepat oleh pembuat kebijakan, dapat menjadi jembatan pemulihan sentimen setelah shock pergantian Menkeu. Bagi pelaku pasar, follow-through pemerintah pada agenda reformasi inilah yang akan menentukan apakah IHSG mampu segera bangkit atau justru terjebak dalam fase koreksi berkepanjangan.
Apa yang Ditunggu Pasar?
Menurut analisis Bloomberg Intelligence (9 September 2025), volatilitas IHSG berpotensi berlanjut dalam beberapa pekan mendatang. Investor kini menunggu tiga faktor kunci yang akan menentukan arah pasar:
- Kejelasan RAPBN 2026
Pasar ingin melihat apakah pemerintah tetap konsisten menjaga disiplin fiskal dengan defisit terkendali, atau justru bergeser ke arah kebijakan ekspansif-populis yang meningkatkan risiko jangka menengah. - Perbaikan komunikasi publik
Uji pertama bagi Menteri Keuangan baru adalah bagaimana ia mampu memulihkan kepercayaan melalui komunikasi yang jelas, tenang, dan konsisten. Tanpa itu, setiap pernyataan berpotensi memperdalam keresahan investor domestik maupun asing. - Komitmen disiplin fiskal jangka menengah
Mengutip Reuters (9/9/2025), sebagian analis khawatir pergantian Menkeu dapat membuka ruang pelebaran defisit di atas ambang 3% PDB untuk mendanai program populis. Jika hal ini terjadi, kredibilitas fiskal Indonesia bisa dipertanyakan, sekaligus menekan rupiah dan memperlemah minat investor jangka panjang.
Selama tiga faktor ini belum mendapat kepastian, sentimen pasar diperkirakan masih terjebak dalam bayang-bayang pesimis, dengan risiko koreksi lebih lanjut jika ekspektasi tidak terpenuhi.
Koreksi IHSG lebih dari 1% sehari setelah pergantian Menteri Keuangan menunjukkan bahwa pasar modal bereaksi keras terhadap ketidakpastian. Bagi Purbaya Yudhi Sadewa, tantangan terbesarnya bukan hanya mengelola APBN, tetapi juga membangun kembali kepercayaan pasar yang retak.
Pasar menunggu sinyal kepemimpinan yang konsisten, disiplin, dan komunikatif. Tanpa itu, volatilitas akan terus membayangi IHSG, meninggalkan kesan bahwa transisi fiskal ini belum mampu memberikan arah yang jelas bagi perekonomian Indonesia.
Baca juga: Pelaku UMKM Khawatirkan Penurunan Omset Akibat Pembatasan Fitur Live Tiktok di Indonesia




