Perjalanan dimulai dari Tanjung Redeb, Kalimantan Timur. Kampung Merabu dapat ditempuh melalui jalur darat sejauh kurang lebih 185 kilometer dengan durasi lima hingga enam jam. Alternatif lainnya adalah jalur sungai. Kampung ini berada di aliran Sungai Selan, anak Sungai Kelay. Sejak awal, lanskap di sekitarnya sudah memberi kesan kuat tentang ruang hidup yang luas, hijau, dan nyaris tak terputus.
Masuk ke Merabu, Tempat Alam Menjadi Bagian dari Hidup
Perjalanan ini membawa kami masuk lebih jauh ke Merabu, sebuah kampung di pedalaman Kalimantan Timur, tempat hutan, sungai, dan karst bukan sekadar latar, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Di sinilah cerita tentang alam, manusia, dan cara hidup saling bertaut.
Bentang alam Merabu merupakan bagian dari pegunungan karst Sangkulirang–Mangkalihat. Karst raksasa ini membentang luas, hijau oleh hutan hujan tropis. Di sanalah berbagai kehidupan tumbuh dan saling bergantung. Bagi masyarakat Dayak Lebbo, hutan bukan sekadar latar, melainkan sumber hidup. Banyak unsur kehidupan mereka mengambil metafora langsung dari alam.
Karst yang Menyimpan Air dan Kehidupan
Karst ini tidak hanya megah, tetapi juga menyimpan fungsi penting. Setiap hujan yang turun, kawasan ini bekerja sebagai tandon raksasa. Air hujan diserap, disimpan, dimurnikan, lalu dilepaskan perlahan. Kepala Kampung Merabu, Asrani, menjelaskan bahwa air yang jatuh di pegunungan karst tersebut dapat disimpan hingga lima belas tahun sebelum akhirnya mengalir menjadi sumber air bersih bagi semua yang membutuhkannya. Cerita ini bukan sekadar tutur kampung, melainkan hasil penelitian yang pernah dilakukan di kawasan tersebut.
Di tengah hutan yang lebat, terdapat Danau Nyendeng. Airnya bening, sebening batu bacan. Danau ini menjadi salah satu perhentian menuju Gua Bloyot dan Puncak Ketepu. Airnya bisa langsung diminum. Kesegaran yang dirasakan di sana sulit dijelaskan, bahkan oleh mereka yang mengalaminya secara langsung.
Gua Bloyot dan Jejak Bungainuk
Perjalanan kemudian membawa kami ke Gua Bloyot. Namanya memang sederhana, tetapi gua ini menyimpan lapisan cerita. Dalam kisah lisan masyarakat Merabu, tempat ini dipercaya sebagai rumah Bungainuk, perempuan paling cantik yang konon mampu mewujudkan apa pun yang diinginkannya. Kini, yang tersisa dari cerita itu adalah jejak telapak tangan dan lukisan payau di dinding gua.
Nama Bloyot sendiri tidak diambil dari legenda tersebut, melainkan dari buah endemik yang tumbuh di sekitar kawasan dengan rasa masam. Untuk mencapai gua ini, tim harus berjalan kaki menyusuri jalur pendakian, melewati hutan yang tenang namun sarat tanda kehidupan.
Lukisan tangan di Gua Bloyot bukan sekadar penanda keberadaan manusia di masa lalu. Penelitian yang dilakukan oleh Pindi Setiawan menunjukkan bahwa motif tangan tersebut dapat dimaknai sebagai ritual penghormatan terhadap dunia di balik dinding gua. Bagi masyarakat Merabu, lukisan itu adalah warisan Bungainuk yang terus hidup dalam cerita lisan. Motif tangan, motif babi, dan motif payau, yang berarti kijang dalam bahasa Dayak Lebbo, menjadi penanda hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
Ada satu filosofi yang hidup hampir di seluruh masyarakat adat yang berdampingan dengan alam. Ambil secukupnya, sisakan untuk yang lain.
Prinsip ini terlihat jelas dalam keseharian masyarakat Merabu. Pakis hutan, buah payang, umbut rotan, tanaman obat, hasil pancingan, hingga daging payau hasil buruan diambil sesuai kebutuhan. Anak-anak menjajakan hasil buruan bukan sebagai komoditas besar, melainkan sebagai bagian dari siklus hidup yang dijaga bersama.
Dayak Lebbo
Keterhubungan Dayak Lebbo dengan alam juga lahir dari sejarah mereka. Di masa lalu, suku ini dikenal tidak gemar berperang. Ketika konflik terjadi, mereka memilih mundur dan berpindah, alih-alih melawan. Sikap ini membentuk kebiasaan nomaden, berpindah dari satu hutan ke hutan lain, dari satu gua ke gua berikutnya.
Latar belakang tersebut membentuk kuliner khas Dayak Lebbo. Sebelum mengenal beras, mereka lebih dulu mengenal sagu. Ketika belum ada gula, madu menjadi andalan. Umbut dari rotan, pisang, dan bambu menjadi bagian dari keseharian. Semua berasal dari hutan, dan semua diambil dengan kesadaran akan batas.
Budaya ini juga tergambar dalam Tari Remit Bunga yang kami saksikan. Tarian tersebut menggambarkan aktivitas berkebun dan berburu masyarakat Merabu. Para lelaki menebas pohon, sementara perempuan menebar benih padi gunung. Saat padi tumbuh, perempuan memperagakan proses merumput hingga panen menggunakan lingga. Sebuah tarian yang menceritakan kehidupan, bukan sekadar gerak.
Ketika Hutan Harus Dipertahankan
Di tengah ketenangan itu, Merabu menghadapi tekanan. Gempuran sawit dan deru gergaji bukan cerita yang jauh dari kampung ini. Lewat cerita, ritual, dan keputusan-keputusan kecil sehari-hari, masyarakat Merabu berusaha bertahan. Mimpi tentang hutan adat bukan romantisme, melainkan langkah konkret agar aktivitas ekstraktif tidak memakan hutan lebih dalam.
Asrani menyampaikan kegelisahannya dengan tegas. Ia mengatakan bahwa masyarakat Merabu taat hukum, sementara praktik ilegal justru terus terjadi di sekitar mereka. Dalam beberapa waktu terakhir, ia kerap bolak-balik ke Tanjung Redeb untuk memperjuangkan penetapan batas hutan adat. Tujuannya satu, memastikan tidak ada sejengkal pun hutan yang dialihfungsikan.
Status hutan adat menjadi kunci perjuangan ini. Kawasan kelolaan Merabu memiliki luas hingga 22.000 hektar, termasuk hutan desa seluas 8.245 hektar. Menjaga kawasan ini berarti menjaga warisan leluhur, sekaligus memastikan masyarakat tetap hidup dan memiliki akses, termasuk akses terhadap pendidikan.
Belajar memuliakan alam di Merabu pada akhirnya bukan tentang sejauh apa perjalanan dilakukan atau sebanyak apa yang didokumentasikan. Ini tentang cara hidup. Tentang bagaimana hutan diperlakukan sebagai dapur bersama. Tentang bagaimana manusia memilih untuk merasa cukup, bukan serakah.




