Dalam 15 tahun terakhir, kita sebagai rakyat Indonesia semakin tangkas mengenal Internet. Dari akses yang besar itu dokumenter jadi bisa diakses, di luar yang ditayangkan di saluran televisi biasa atau di bioskop. Sudahlah penontonnya sedikit, terbatas juga jam tayangnya.
Perjalanan yang dilakukan Farid Gaban, Dandhy Laksono, Suparta Arz (Ucok), Ahmad Yunus dan sekarang dengan generasi baru seperti Yusuf Priambodo & Benaya Harobu mencoba merentang itu semua. Membuat dokumenter jadi mudah untuk diakses, membuat dokumenter di mana realitas Indonesia bisa dilihat langsung oleh warga.
Dalam kurun waktu itu, setidaknya sudah ratusan pulau, ratusan film, ratusan ribu frame foto dan footage Indonesia didokumentasikan. Mulai dari 2009-2010 di perjalanan Zamrud Khatulistiwa, kemudian 2015-2016 di Ekspedisi Indonesia Biru, dan yang paling hangat Ekspedisi Indonesia Baru pada 2022-sampai 2023.
Pakai Motor yang Bukan Ekspedisi-Ekspedisi Banget
Dalam kurun waktu itu juga Indonesia mengalami berbagai pergolakan ekonomi politik, setiap ekspedisi punya sudut pandang dan urgensinya masing-masing. Tapi satu yang tetap sama, 3 perjalanan itu sama-sama pakai motor yang “bukan ekspedisi banget”. Bukan moge, bukan juga motor yang diciptakan untuk travel beratus ribu kilometer luas Indonesia raya.
Di Zamrud, kit yang digunakan adalah Yamaha Win 100. Di perjalanan mereka menemukan berbagai kendala tentunya, mesin karbu jadul itu harus menahan berbagai medan lumpur, bebatuan dan lain sebagainya.
Di perjalanan Indonesia Biru, bahkan dalam berbagai frame ditunjukan Dandhy Laksono ya sebatas pakai sandal jepit saja. Bermodal Honda Karisma 115, penampilan seperti itu mirip seperti orang Indonesia pada umumnya yang sedang wara-wiri. Bedanya Ucok dan Dhandy memang bawa seperangkat alat perfilman dan menggelar berbagai wawancara bersama warga.
Lanjut ke yang terkini, di perjalanan Indonesia Baru, keempat jurnalis lintas generasi ini menjajal 27 provinsi dengan bekal Supra X 125. “Supra geter bapak” yang sering kita lihat di rumah sekitar kita. Bedanya hasil dari jalan-jalan in berbuah 12.000 frame foto dan 18tb rekaman video tentang Indonesia dan ceritanya.
Bayangkan saja, jika dibentangkan, luas Indonesia itu merentang dari Lisbon (Portugal) ke Moscow (Rusia). Kalau dibandingkan dengan Amerika Utara, rentang Indonesia itu menjangkau California sampai New York. Sebuah perjalanan yang bisa kita sanding bareng dengan beberapa perjalanan legendaris lainnya yang memang menginspirasi perjalanan ini.
Dokter muda yang bernama Che Guevara menjelajahi 12.800 kilometer dari rumahnya di Argentina sampai ke Venezuela, kemudian menemukan realitas Amerika Latin yang tidak baik-baik saja.
Kemudian perjalanan Ewan McGregor & Charley Boorman dalam “Long Way Down” yang menjelajahi 24.000km yang menjelajahi Skotlandia sampai Afrika Selatan. Perjalanan Ewan & Charley menghasilkan dokumenter yang mantap. Kedua inspirasi itu menjadi 3 ekspedisi yang kita bahas kali ini.
Zamrud Khatulistiwa & Indonesia Biru: Mencatat Indonesia
Ahmad Yunus waktu itu masih jurnalis muda untuk Playboy Indonesia dan sejumlah media, dia wartawan lepas. Satu lagi adalah Farid Gaban, jurnalis senior yang sudah malang melintang di dunia jurnalisme Indonesia, sempat juga menjadi pemred Tempo dan sempat kena peringatan dari Menpolkam pada tahun 1997 gara-gara laporannya berjudul “Republic of Vampire”.
Keduanya berjalan menjelajahi pulau-pulau terluar di Indonesia, Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Dalam kurun waktu setahun, catatan mereka menceritakan orang-orang Indonesia bukan sekadar dari peta, tapi wawancara realitas hidupnya, berbagai tantangan akses jalan dan amenitas sehari-hari. Juga menjawab pertanyaan bagaimana mereka masih bisa berteriak “Aku adalah indonesia” di antara berbagai halang rintang itu, seperti yang dicatat Ben Anderson di Imagined Communities.
Hasil perjalanan itu menjadi 2 buku; Meraba Indonesia (Ahmad Yunus) dan Taman Laut (Farid Gaban) dengan perspektif Indonesia yang jarang ditemui di arus media utama saat itu.Dokumenternya masih bisa diakses di Youtube.
Suparta Arz (Ucok) dan Dandhy Laksono melanjutkan perjalanan 5 tahun kemudian. Dandhy sendiri bersama kawan-kawan lain membuka sebuah media alternatif bernama Watchdoc di periode Zamrud-Indonesia Biru. Dari mulai pelatihan jurnalistik sampai pencatatan lainnya soal Indonesia dilakukan media itu, dan penegasannya ada di ekspedisi Indonesia Biru.
Ucok sendiri adalah fotografer asal Aceh, selama 2015 itu mereka mengisi waktu dengan 19 ribu kilometer perjalanan, hingga menjadi 55 serial video dan 12 film dokumenter. Yang tersohor di ingatan kita salah tiganya adalah Sexy Killers, Samin vs Semen dan Asimetris. Lebih tidak masuk diakalnya, dua perjalanan barusan itu merogoh tabungan dan sambil menjual dokumentasi secara eceran, tanpa sponsor yang besar.
Dinamai Indonesia biru karena dua jurnalis ini akan meliput Indonesia dari sudut pandang “Ekonomi Biru”, intinya, pembangunan harus dimulai dari Lokalitas dan Inovasi yang tepat guna, bukan sekadar pembangunan gigantis. Inovasi itu harus punya akar antropologis dan dekat dengan manusianya.
Indonesia Baru; Koperasi, Komunitas & Regenerasi
Waktu berjelang, generasi berganti. Kali ini giliran generasi baru mengisi line-up perjalanan ada Farid Gaban (Boomer), Dandhy Laksono (Gen X), Yusuf Priambodo (Milenial), dan Benaya Harobu (Gen Z). Dalam perjalanannya, dan pembaharuan dari 2 ekspedisi sebelumnya, Indonesia baru menghasilkan koperasi film dan berbagai cara pemutaran film yang tidak biasa, seperti di Pasar Tradisional atau di kampung-kampung warga.
Perjalanan ini lebih dari setahun, kurang lebih setelah menempuh 424 hari perjalanan, ekspedisi ini tiba di garis finish pada 28 Agustus 2023 di lokasi yang sama. Dengan total perjalanan 11.000 km dan melewati 27 provinsi, ekspedisi ini membawa pulang 18 terabyte rekaman video dan 12.000 frame foto.
Tindak lanjut lainnya adalah sebuah akun bernama @idbaruid, juga usaha yang dibuatnya dalam bentuk koperasi. Dalam beberapa kesempatan, tim ini juga mengadakan pelatihan jurnalistik sampai ke aktivasi-aktivasi lainnya yang membuat regenerasi jadi mungkin.
Ibarat menyatukan puzzle format Zamrud Khatulistiwa dan Indonesia Biru, ekspedisi yang satu ini menghasilkan berpuluh dokumenter, dan yang terbit baru-baru ini; “Reset Indonesia”. Seperti namanya, berbagai masalah di Indonesia sering membuat kita menarik nafas dalam-dalam sambil membayangkan what could’ve been if…. Dalam versi yang lebih valid dengan data dan pengalaman langsung.
Baca juga: Di Balik Behind Buku Riset Indonesia, Catatan Kritis Dari Jalan-Jalan Keliling Indonesia




