Balaruna “Singgah” di Sound of Spotted Episode 1

Balaruna bukan hanya grup musik handpan pertama di Indonesia tetapi juga menghidupkan kembali keajaiban alat musik ini di Indonesia.

Share:

Pada suatu hari di bulan April 2017, tiga musisi memutuskan untuk menghidupkan kembali suara yang telah lama hilang. Harry Koi, Bintang Manira, dan Dani Veryana, dalam sebuah perbincangan hangat, sepakat untuk memperkenalkan handpan kepada Indonesia.

Handpan, yang punya bunyi unik menyerupai gamelan, gong, dan lonceng, mampu membawa pendengarnya ke dalam kedalaman meditasi yang menenangkan.

Balaruna, demikian nama grup musik yang mereka bentuk, diambil dari bahasa Lemurian yang berarti “tanpa batas”. Inspirasi nama tersebut datang dari sebuah video YouTube oleh Kang Dicky Zainal (Hikmatul Iman), yang berbicara tentang sistem elektrik yang abadi, seperti ular yang membentuk angka delapan, memakan ekornya sendiri. Sistem elektrik itulah yang disebut Balaruna.

Balaruna bukan hanya grup musik handpan pertama di Indonesia tetapi juga menghidupkan kembali keajaiban alat musik ini di Indonesia. Melalui tangan terampil Dani Veryana, sang pengrajin handpan dari Ujung Berung. Dalam pertemuan awal mereka, Dani memberikan dua buah handpan kepada Harry dan Bintang, sebuah momen yang menjadi titik balik dalam perjalanan mereka.

Harry, Bintang, dan Dani tidak hanya berhenti di situ. Balaruna terus bereksperimen, memadukan handpan dengan berbagai instrumen lain seperti Tabla, Suling, Klarinet, Flute, Danmoi, Jewsharp, Morchank, Kalimba, Sape, Shakuhachi, Bansuri, Shruti Box, Gitar, Harmonika, Udu Drum, dan Biola. Kolaborasi ini menciptakan harmoni yang memikat dan tak terduga, mengundang pendengar untuk merasakan musik yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.

Penampilan Balaruna bukan sekadar konser musik biasa. Ada sesuatu yang berbeda saat tiga orang dengan instrumen berbentuk cangkang logam mulai memainkan nada demi nada. Handpan, alat musik yang mungkin belum banyak orang kenal, jadi pusat perhatian. Suara yang dihasilkannya mirip perpaduan antara gamelan dan lonceng, tapi lebih lembut dan meditatif membuat pendengarnya seperti ditarik masuk ke ruang batin yang sunyi dan luas. Dalam sebuah ruang kecil, suara handpan bisa jadi medium kontemplasi, bukan sekadar hiburan.

Yang menarik dari penampilan mereka adalah keberanian untuk meleburkan bunyi handpan dengan berbagai instrumen dari kultur berbeda ada Tabla, Kalimba, Klarinet, sampai Sape. Setiap kolaborasi terasa seperti percakapan lintas budaya yang tidak dipaksakan. Bahkan ketika Balaruna tampil di ruang terbuka, suara mereka tetap terasa intim. Tidak ada teriakan, tidak ada visual yang terlalu dominan cukup duduk dan dengarkan. Rasanya seperti meditasi kolektif, tanpa harus tahu caranya bermeditasi.

Dan yang bikin lebih relevan, mereka tidak menjaga jarak dengan publik. Lewat sesi lokakarya, sharing, dan open jam, Balaruna berusaha memperkenalkan handpan sebagai sesuatu yang bisa dijangkau siapa saja. Bukan sekadar tontonan, tapi ruang eksplorasi yang terbuka. Buat kamu yang biasa datang ke gigs, mungkin ini bukan panggung yang riuh, tetapi peace of mind.

laporan ini hadir di exclusive print discover vol 1: Sound of Spotted Episode 0-6