Ada Cerita Dan Pelestarian Dalam Setiap Piring Dan Sajian Merabu

Perjalanan ke Merabu memperlihatkan bagaimana makanan, hutan, dan kehidupan masyarakat saling terhubung. Dari ikan hasil jala hingga pecok buah musiman, setiap sajian menyimpan cerita pelestarian yang hidup dalam keseharian masyarakat Dayak Lebo.
Belajar Memuliakan Alam Di Merabu: Kekayaan Alam & Cara Hidup Dayak Lebbo Untuk Hutan

Perjalanan ke Kampung Merabu membawa kami menyusuri hutan, karst, dan cerita hidup masyarakat Dayak Lebbo. Sebuah catatan perjalanan tentang alam yang dimuliakan, bukan dieksploitasi.
Solusi-Solusi Indonesia Baru Di Roadshow Reset Indonesia, Lentera, Bandung

Roadshow Reset Indonesia singgah ke Lentera i-Farm, Bandung, mempertemukan inovator warga dan gagasan baru tentang konservasi, ekonomi, dan “mimpi Indonesia”. Bukan sekadar tur buku, tetapi perjalanan mengumpulkan solusi warga untuk Indonesia.
Menggali Inovasi Kuliner dan Bisnis Berkelanjutan di Ramu Rambat

Ramu Rambat mempertemukan diskusi mendalam tentang kuliner, identitas lokal, dan peluang bisnis berkelanjutan di ruang publik. Melalui pengalaman rasa, bahan, dan inovasi, acara ini menegaskan bahwa budaya bisa dihidupkan kembali lewat kuliner sambil membuka potensi ekonomi yang melibatkan banyak pihak.
Mencatat & Merekam Indonesia: Kesaksian 3 Ekspedisi Keliling Indonesia

Tiga ekspedisi lintas generasi Zamrud Khatulistiwa, Indonesia Biru, dan Indonesia Baru menelusuri ribuan kilometer perjalanan demi merekam wajah Indonesia yang sesungguhnya. Dari catatan Farid Gaban hingga generasi baru, kisah ini jadi saksi hidup tentang negeri yang terus berproses mencari makna.
Explonation Sintang: Penjelajahan La Ode MCI 8

Voyage: Explonation Sintang bersama La Ode MCI 8 menghadirkan catatan perjalanan dan kuliner dari Kalimantan Barat. Dari harmoni etnis Dayak, Tionghoa, dan Melayu, lahir makanan khas yang memadukan tradisi dan alam. Majalah ini hadir dalam format flipbook dan interactive book untuk pengalaman membaca yang lebih hidup.
Catatan Bersih-Bersih Gunung Guntur: Masalah Sampah Bukan Cuma Tanggung Jawab Pengelola

Pengelola tempat wisata seringkali menjadi kambing hitam atas urusan apa pun. Tempat parkir yang penuh, akses jalan yang buruk, fasilitas penunjang wisata yang kurang, hingga tumpukan sampah di sudut-sudut yang tak terlihat mata—semua salah pengelola. Ketika ditanya, “Kok banyak banget tumpukan sampah? Siapa sih yang tanggung jawab?” maka template jawabannya: “Ini tanah dikelola oleh PT. A. Coba tanya aja ke mereka.” Jawaban itu terlalu kekanak-kanakan dan tidak menyelesaikan permasalahan yang sesungguhnya. Itu menunjukkan seolah-olah semua kondisi yang terjadi di lingkungan tempat wisata adalah tanggung jawab pengelola semata. Padahal, menjaga lingkungan adalah kewajiban dari semua makhluk yang ada di muka bumi. “Untuk masalah sampah ini memang harus diawali dari sistem yang tepat. Kita harus lihat dari sisi manusianya—sampah ini dari mana datangnya? Apa jenisnya? Bagaimana sistem pengelolaan sampah warga sekitar? Bagaimana dengan yang dilakukan pengelola? Semua harus ditelusuri agar ada aksi yang tepat untuk masalah sampah ini,” jelas Kurnia, Pecinta Alam & Aktivis Lingkungan Garut. Temuan dari kegiatan Bersih Gunung Guntur menunjukkan bahwa ada masalah dalam sistem pengelolaan sampah di sekitar Situ Cibeureum. Rata-rata sampah yang ditemukan adalah sampah rumah tangga—popok bayi, kemasan sabun cuci, makanan ringan, dan minuman sachet. Setelah berdiskusi dengan petani yang beraktivitas di sekitar sana, terungkap bahwa kawasan tersebut memang tidak memiliki Tempat Pembuangan Sementara (TPS). “Wajar kalau warga buang sampah sembarangan. Soalnya nggak ada TPS, artinya nggak ada pengangkutan sampah rumah tangga secara berkala. Jadi awalnya masyarakat buang sampah ke tebing. Setelah tebing ditutup, mulai buang ke Situ Cibeureum, di pinggir jalan, di cekungan. Aksi setelah ini adalah koordinasi dengan ketua RW setempat untuk meminta pengangkutan sampah di kampung-kampung sekitar sini,” ungkap Rusdi, Founder The Forest Ranger. Melalui program Bersih Gunung, The Forest Ranger tidak hanya membersihkan area gunung, tetapi juga mencoba melihat permasalahan lingkungan dari sisi aktivitas manusia dan sistem yang mendukungnya. Sehingga kegiatan ini bukan sekadar pemungutan sampah, tapi sebuah upaya untuk memahami dan menyelesaikan akar masalahnya. “Ada kita, alam bersih. Nggak ada kita, alam tetap bersih. Itu bukti dari kegiatan kita sudah berhasil,” pungkas Kurnia.
Menjarah Sampah di Gunung Guntur

he Forest Ranger menginisiasi gerakan Bersih Gunung Guntur. Inisiasi ini akhirnya disambut baik oleh berbagai pihak yang memberikan dukungan peralatan dan pengangkutan sampah, di antaranya adalah D’Russa Leather, Perhutani, Dinas Lingkungan Hidup Kab. Garut, BKSDA Kab. Garut, KPA REKAPALA Garut, dan Nomade Leatherworks.
200 Karung Sampah dari Mitos Palsu di Gunung Talaga Bodas
Culture Collar membarengi The Forest Ranger menilik dua mata pisau kekayaan alam Indonesia di Gunung dan Danau Vulkanik Talaga Bodas.
Apa yang Terjadi Setelah Pembersihan Gunung dan Danau Talaga Bodas?

Pembersihan kawasan Gunung dan Danau Vulkanik Talaga Bodas yang dilakukan oleh Forest Ranger bukan bersih-bersih semata, tetapi jadi peran yang harus berkelanjutan.